poker terbaik dan terpercaya
agen bola terbaik dan terpercaya
2011-06-27T19:34:00+01:00 ...
http://example.com/mypage Mon, 27 Jun 2011 19:34:00 +0100 ...
http://example.com/mypage 2011-06-27T19:34:00+01:00 ...
  • Judi Poker Terbaik

    HOT PROMO BONUS NEW MEMBER 30%

  • Poker Terbaik Uang Asli

    HOT PROMO BONUS DEPOSIT 10%

  • Bandar Poker Terbaik Uang Asli

    LAYANAN 24 JAM CS PROFESIONAL

Tampilkan postingan dengan label CERITA SANGE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA SANGE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2019

MANDA SEMOK PENUH GAIRAH

Aku malevi, ini pertama kali aku mengenal seks, tetapi saat aku berada di tempat kos milik tetangga. waktu itu aku berumur 14 tahun masih smp lah, papa ku adalaha seorang pengusaha kayu ternama yang mempunyai lebih dari 10 tempat kos-kosan, salah satunya ada di sebelah rumahku ,yang menarik adalah penghuni kostnya salah satunya adalah mbak manda ,dari semua penghuni kost disana dialah yang paling cantik plus baik umurnya kira-kira 22 tahun.

sering kali aku diundang masuk ke kamarnya hanya sekedar menemani dia menghabiskan jatah jajan yang dia bawa. jujur aku sudah suka padanya. bentuk tubuhnya mirip model-model bikini dari majalah ayahku (dari kecil aku memang sudah suka membacanya) yang pasti montok lah, tinggi 170 berat badanya pun aku tafsir sekitar 50 an dan dadanya berukuran 34B (hanya mengira-ngira bentuk dan besarnya mirip sekali dengan model majalah itu).

dia suka sekali meluk-meluk aku, nggak tau kenapa mungkin karena aku cubby dan polos. jadi semakin aku pasrah di dalam pelukan gemasnya padahal aku juga merasakan betapa kenyal dadanya yang menghimpit erat tubuhku. enak sekali rasanya. pernah sekali aku karena napsunya, aku yang memeluknya dan menghujamkan kepalaku di dada montoknya sembari kugeleng2kan kepala. dia hanya tertawa.

obrolan pun berlanjut, ?mba udah punya pacar???????.?hihihi hihi..belum lev, kenapa kok tanya-tanya?????.?enggak biasanya kan kalo udah gede punya pacar???.dia hanya membalas dengan tawa. hari ini memang sangat special, mba manda hanya menggunakan kaos t-shirt longgar dan panjang tanpa menggunakan celana, dibiarkannya pahanya yang putih mulus membuatku menelan ludah, memang hari ini dia libur kuliah dan berencana beres-beres kamar, ketika dia meletakan sesuatu di atas lemari.

shiutttttt T-shirtnya naik ke atas sehingga aku bisa celana dalamnya yang berwarna putih polos ditambah melihat bongkahan pantatnya yang padat dan montok sekali. sudah nggak tahan aku aku ingin melihatnya telanjang bulat.

aku di kagetkan dengan suara handphone mbak manda, seperti biasa dia tak pernah mengangkat telepon di depanku, pasti dia keluar kamar. pertama-tama aku memang gak curiga. tetapi gerangan siapa yang mengganggu masa puber ku. membuatku sebal dan curiga. akhirnya mbak manda masuk kamar lagi ?lev?maaf yha mbak mau pergi dulu nieh, lupa tadi mbak ada janji?????siapa sih mbak yang telpon, penting yha mbak ? aku berusaha untuk menahan dia pergi?..?Hmm..mau tau aja kamu lev, yang jelas dia penting buat mbak..kalo enggak penting, mana bisa mbak tidur di kost mewah kayak gini? dia tertawa kecil.

aku nggak tau maksudnya apa. pertemuan hari ini cukup sekian, aku diusir secara halus oleh mbak manda. aku menunggu dia di depan rumah kost. sekedar ingin tau dewi cantikku ini menggunakan baju apa. perlahan dia melangkah keluar kost, dengan senyuman lembut, rambut panjangnya yang berwarna coklat dikuncir, celana panjang jeans berwarna biru ketat memperlihatkan pahanya yang berisi, bokongnya yang padat,.. dia menggunakan kaus putih, berdada rendah memperlihatkan payudaranya yang membusung, BH yang dikenakannya adalah Bra yang mengait dileher, hingga aku dapat dengan jelas melihat warna Bra-nya talinya berwarna merah jambu.

seksi sekali. ?dadah lev?..mba jalan dulu? dia meninggalkanku. semakin aku nafsu saja. aku tau pasti kebiasaan mba manda, dia orangnya pelupa. jadi dia selalu menyimpan kunci di bawah pot sebelah kamar. aha?.segera aku masuk menggunakan kunci tadi. di dalam kamarnya aku hanya bisa tersengal-sengal, jantung rasanya udah gak karu-karuan takut sekali. aku juga bingung, bagaimana aku bila ketauan nanti kalau aku berada di kamar, bakal ditanyain macem-macem nih. tapi itu tak berlangsung lama.

karena kudapati celana dalam yang mba manda tadi pakai. tiba-tiba saja aku langsung menyaut celana dalam tadi. aku endus-endus pas bagian vaginanya. memang agak berbau amis semi-semi pesing. kain di sekitar selangkanganya agak basah mungkin keringat. wah aku semakin gila dan semakin nggak nahan. segera aku masuk ke dalam lemari kuciummi celana dalamnya sembari aku kocok penisku?hingga tanpa sadar aku pun tertidur lemas di sana.

kreekkkk?..? suara pintu terbuka, hal itu juga yang membangunkanku,?..?loh kok nggak kekunci, tadi perasaan manda udah ngunci deh??sayub-sayub suara mba manda terdengar. aku semakin gelagepan, bingung sekali?.tiba-tiba??dasar kamu say, cantik-cantik kok pelupa??ada suara seorang laki-laki, aku akrab sekali dengan suara ini. yha ini mirip suara papa. perasaan takutku berubah seketika. aku curiga apa yang dilakukan papa ku di kamar mba manda.

ih iyha kuncinya masih di dalam..om?..agh?.om?slur p?slurrrrp? aku mendengar suara mba manda mendesah. ?agh?.owww?..om??. !!!, ????Manda sayang?slurrrp..slurrp? aku semakin penasaran saja. aku berusaha mencari celah untuk melihat kejadian di luar. aku buka resleting lemari yang terbuat dari kain itu sehingga bisa leluasa melihat keluar. \par
alamak aku melihat mba manda sedang di cumbu oleh papaku. papaku dengan ganasnya menciumi bibir mba manda. mba manda hanya bisa pasrah saja. tangan besar papa meremas-remas payudara mba manda. ?manda?kamu wangi sekali?

erangan papaku saat dia menghisap-hisap leher mba manda??Om..agh?..? aku melihat mba manda tampak menikmati setiap kecupan papa, jujur aku sangat marah bagaimana mungkin, papaku orang yang selalu aku hormati melakukan perbuatan tak senonoh seperti itu. aku sempat hampir kalap ingin segera kulabrak mereka, tetapi niat itu ku urungkan. karena aku juga ternyata mulai menikmati Live performance ini?

dengan kasarnya papa menyingkap kaos t-shirt mbak manda, sehingga sekarang yang tampak adalah BH mba manda yang membungkus payudara indahnya, papa mulai melepaskan kemeja nya begitu jari lentik mba manda melepaskan benik-benikya, sembari terus menyambar dan menghisap bibir papa mba manda mengelus-ngelus dada penuh bulu milik papa. aku semakin penasaran saja. kejadian erotis apa yang akan terjadi.

ciuman itu membuat mereka saling berpagutan hampir 5 menit lebih. tiba-tiba mbak manda mendorong papaku hingga tersungkur di kasur. ?Om?liat manda yah..? sembari mbak menyalakan cd dengan remot. dia mulai meliuk-liukan tubuhnya. ?wow..ternyata mba manda mau menyuguhkan tarian erotis nya? aku semakin tak sabar saja.\par
dengan liukan tubuhnya yang sintal, mba manda mulai membuka celana jeans nya. hingga dia hanya menggunakan BH yang mengait di leher dan celana dalam berwarna hitam transparan.

walaupun suasananya agak redup, tetapi aku bisa melihat dengan jelas betapa seksinyanya mba manda, dengan gemulainya mba manda mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangan nya sendiri. dari sedikit-dikit dia remas payudaranya sendiri dengan lembut tapi pasti, dihimpitkan kedua belah payudaranya, membuat tubuhku juga tubuh papa semakin memompa adrenalinnya, wajahnya yang cantik dan putih agak semu kemerahan mungkin akibat pengaruh alkohol dengan lihainya menunjukan mimik sensual sekali. kadang kadang mba manda menjilat bibirnya yang sudah terpoles lip-gloss sehingga tampak basah dan ingin segera di hisap.

mba manda kini membelakangi papa. dan dengan erotis nya dia mulai membuka BH nya dan membungkuk sehingga pantatnya dengan leluasa memperlihatkan vaginanya yang tampak mengembul dan kenyal.montok sekali vaginanya. kembali dia menghadap papa dan memang luar biasa, payudara yang selama ini aku sangat ingi dekap terlihat dengan sintalnya. bentuknya membulat penuh dan kenyal sekali, pentilnya tampak bundar imut dengan warna merah muda. aku juga melihat jejak-jejak kecupan papa dan remasanya di seluruh tubuh mba manda sehingga meronakan merah tubuh sintalnya.

manda?.Om udah nggak tahan sayang sini..? papa menarik tangan mba manda dengan cepat. mba manda sempat kaget dan terjatuh. memang dasar papa. dia segera menangkap tubuh mba manda. dan mengarahkan arah jatuhnya sehingga payudaranya yang kenyal itu menghujam terlebih dulu ke mukanya. di hisap nya pentil mba manda dengan ganas. tangan kanan papa mulai menuju pantat mba manda diremas-remas nya pantat kencang tersebut, aku melihat muka mba manda yang semakin tampak terangsang. papa lalu melorotkan celana dalam hitam mba manda sehingga kini mba manda sudah bugil tanpa sehelai kain pun.

papa pun kembali bergerilya mulut dan tangannya tak terus menghisap seluruh jengkal tubuh sintal mba manda ?manda?..kamu?.enak banget?.? papa terus meracau sembari terus menikmati setiap jengkal tubuhnya. tangan mba manda dengan sigap membuka celana papa. aku sempat terkejut dengan barang milik papa. hitam dan besar mengacung-ngacung di perut mba manda. dengan sayangnya mba manda memegang dan mengocok batang kejantanan papa.

ditariknya pantat mba manda. dari posisi mba manda berada di atas papa. kini pantat mba manda tepat diatas kepala papa. kulihat mba manda dengan lihainya mengocok-ngocok penis papa dan di masukan kedalam mulut. mba manda tampak menikmatinya ketika dia gosok-gosakan bibir manisnya di penis hitam papa. papa pun tampak luar biasa girangnya. dihapannya kini ada sebuah vagina yang sangat-sangat indah. aku bisa leluasa melihat karena memang posisi lemari tepat persis di belakang kasur.

vaginanya berwarna merah merekah, bentuknya gemuk dan mengembul keluar papa langsung menghisap-hisap lubang kebahagiaan milik mba manda, sembari dia geleng-gelengkan kepala. mereka bener-bener sangat terangsang sehingga suasana semakin hot saja.

kini mba manda sudah di bawah. papa lalu membalikkan badan dan lagi-lagi mulai menghisap bibir mba manda, tangan papa yang tadinya bergerilya kemana-mana akhirnya menghentikan pencariaanya di vagina mba manda, di benggangnya paha mba manda lebar-lebarnya. sehingga vagina mba manda semakin terlihat merekah merah. papa lalu menunggangi mba manda. tampak tangan mba manda memegang penis gagah papa dan menggerakaanya menuju masuk liang surga. aku melihat memang beberapa kali penis papa tergelincir keluar tapi lagi-lagi tangan mba manda membenarkan posisinya. blesss??akhirnya masuk juga penis papa, dan gilanya, aku bisa melihat bagaimana vagina montok mba manda mencengkeram erat penis papa.

penis itu masuk dengan gagahnya. papa mulai mendesah ?man?da?..man?..enak banget memek kamu?man?..peret?..?, sembari dengan pelan-pelan pantat papa memompa pantat mba manda sehingga penisnya bisa masuk dan keluar dengan nikmat. ?om?.ampun?.om?.buru ng om kok?.perkasa gini?.agh?.manda?..gak tahan?? entah kenapa ketika mba manda mendesah mba manda tampak semakin erat memeluk tubuh papa dan tampat tubuhnya bergetar-getar seperti kita saat menahan pipis. pompaan papa pun semakin di percepat dan diperganas. aku melihat penis papa di penuhi buih-buih putih yang mungkin keluar dari vagina montok mba manda. vagina mba manda pun memerah dan semakin membuatnya indah.

kini papa melepaskan pelukannya dari mba manda. dan dengan masih menancapnya penis di vagina mba manda. dianggkatnya tubuh sintal itu dan dihimpitkan di tubuh tersebut di tembok. papa semakin perkasa saja mengoyang-goyang pantatnya maju mundur- sedangkan mba manda hanya mendesah dan kadang-kadang menatap sayu papa. ?manda?.om mau keluar neh??.aku mau keluarin di dalem aja yah??, sebelum mba manda menjawap, papa semakin memasukan penisnya ke vagina mba manda dengan frekwensi yang sangat cepat, suara gesekan antara keduanya yang tadi terdengar berirama kini mulai tak karuan. ?ja?ja?.ja?..ngan om?.nanti manda?



suara desahan mba manda belum berakhir tapi papa sudah menghentikan pompaannya di titik terdalam penisnya mampu menjangkau vagina mba manda, ?terlambat sayang?hehe?..om puas banget neh? dilepaskan pelukan papa dan mba manda lalu langsung terhuyung lemas di kasur. segera papa membereskan dirinya, diambil tisu basah yang dia sudah persiapkan dan dibersihkan penisnya lalu papa kembali mengenakan pakaian, sedangkan mba manda hanya bisa pasrah di sudut kasur, dia menatap kosong. napasnya pun tersengal-sengal,

aku melihat vagina mba manda mengeluarkan cairan putih, mungkin itu sperma papa yang dengan sadisnya disemprotkan kesana. ?manda sayang?makasih yah?jangan kuatir?kayak gini cukuplah buat lo tinggal semester depan? mba manda hanya menatap kosong. masih dengan telanajang dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. papa pun sudah selesai berpakaian dan kini dia berpamitan dengan mba manda. Berita 18+

sekarang aku mulai sadar, bagaimana aku?.apa yang harus aku lakukan nggak mungkin aku terus bersembunyi di dalam lemari mba manda. lambat lautpun mba manda pasti akan membuka lemari ini.

KETIKA OM KELUAR RUMAH , SEGERA KU EMBAT TANTE KU

Saya Dito, bukan nama sebenarnya…..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo.

Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun. saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km…

Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit ‘gatel’ om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam.

Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis. “Brak..” suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar.

Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, “Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku.” Dalam hatiku berkata, “Wah ribut lagi.” Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobilnya dan pergi entah ke mana. Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku)

Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan.

Aku bertanya, “Kenapa Tan? Om kambuh lagi?” Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya. Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam.

Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis. Tiba-tiba Tante Sis berkata, “To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante.

Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi.” Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya. Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu.

Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi). “Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!” “Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana.”

Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, “Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok.” (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam). “Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella.” “Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok.”

Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya. Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki. Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya,

“To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!” Dengan nada marah Tante Sis mengusirku. Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku.

Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku. Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu).


Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang. “Mau apa kamu To?” tanyanya dengan gugup bercampur kaget. “Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante”.

Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya. “Lepasin Tante, Dito,” suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas.

Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku. Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku.

Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit).

kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri….yaitu tanteku…. Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU……….. , Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku . ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini.

“To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun”. Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. …….usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil……karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama bahkan mungkin lebih fatal akibatnya……. Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku.

“Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan …..lepasin Tante To..” Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, “Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih…..,” bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa.

Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, ……..tanteku menggelinjang hebat…..seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya…. ssshhhhhhhhh….tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku…….kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar.

Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, “Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante.” Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku.

kemaluanku kudorong perlahan …seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama…….. cllkk….clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku…….seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak…… …

Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme……………………………………. …………… kudiamkan sejenak …..kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya………kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat…..kurasakan tubuh tanteku bergetar…. kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya…….


kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas……kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku……tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,….lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan…..dan menurunkannya lagi….kuangkat lagi……dan kuturunkan lagi…….

kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas …kelubang nikmatnya…… ahirnya tanpa kubantu ….tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun….. oooooooccchhhhhhhh…….aku yang blingsatan kenikmatan… rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas…. kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini…. rupanya tanteku mengetahui keadaan ini …
ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya……. oooooochhhhhh,…………sshhh……kali ini aku yang mirip orang kepedasan aku mengangkat kepalaku…kuhisap puting susu tanteku….. ia mengerang……..goyangannya tambah dipercepat…. dan 5 menit berjalan …….

tanteku bergetar lagi……ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua…… pundakku dicengkeramnya erat…… ssshhhhhhh………bibir bawahnya digigit…sambil kepalanya menengadah keatas….. “to….bangsat kamu…….tante kok bisa jadi gini…..ssssshhhh ….tante udah 2 kali kluarrrrrrrr…”….. aku hanya tersenyum….. “tulangku rasa lepas semua to….” aku kembali tersenyum…

“tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu..” kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional.. kugenjot dengan deras kewanitaannya….. oooohhh oohhh….ssshhhhh tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku………….. aku pun sudah kepengen nyampe……. dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya.

ssshhhhhh……aaachhhhhhh……………….. spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku…….. mata tanteku sayu menatapku klimaks……… permainan panjang yang sangat melelahkan……yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih……. kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku..

“kamu harus menjaga rahasia ini to…..” aku hanya mengangguk…. dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak……. karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya.

Selasa, 05 Februari 2019

AKU JADI PENGGANTI ISTRI DARI ANAK KANDUNGKU SENDIRI


|     CERITA SEX    |


Sejak kematian menantuku, Lina, anakku Dodi menjadi duda. Dia tinggal di rumahku, dengan membawa anaknya yang berusia 6 tahun. Kebetulan sekali putri tunggalnya itu begitu dekat denganku. Dodi pun seperti kehilangan semangat untuk melakukan apa saja.

Setelah mengantar anaknya ke sekolah, dia langsung pulang ke rumah tak mau lagi mengerjakan apa pun juga. Aku sudah lelah menyemangatinya. Aku mengakui, kalau Lina orangnya sangat baik dan cantik. Pantas kalau Dodi anakku sangat kehilangan dirinya. Oh iya Perkenalkan namaku Sarah, Umur 42 tahun. Ukuran Bra 36D.

"Sudahlah, Dod. Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan," kataku menenangkan jiwanya. Aku menyuruhnya untuk menikah lagi, Tapi Dodi yang kini sudah berusia 25 tahun itu, tak mau menikah. Takut anaknya punya ibu tiri dan tak dapat menerima anaknya. Aku mengalah. Tapi aku tak sampai hati melihatnya selalu uring-uringan. Selalu termenung. Mungkin inilah kesalahanku. Aku mendekatinya, dengan maksud agar dia tetap hidup semangat menghadapi semua ini.

Jika pagi, kami selalu berdua di rumah. Dua anakku yang lain sedang bekerja dan kuliah. Sementara suamiku sudah lebih dulu meninggal dunia, 5 tahun lalu. Aku hidup dari deposito suamiku dan dari hasil sewa tanah dan sewa 7 buah toko di pusat perbelanjaan mewah, serta sewa beberapa hektar sawah di kampung.

Seusai mandi, aku memakai kimonoku, tanpa apa pun yang melapisinya di dalam kimonoku. Itu biasa kulakukan, karena di rumah tak ada yang melihat. Aku berjemur di atas kursi malas di halaman belakang yang dipagari tinggi pada sebuah taman kecil. Tiba-tiba Dodi datang dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Dia juga baru usai mandi. Dia mendatangiku dan menyeruput kopi panas yang tersedia di meja kecil dekat kursi malasku. Aku meraih tengkuknya dan mencium pipinya dengan kasih sayang, agar dia tetap semangat. Entah apa yang dipijaknya, Dodi terpeleset, hingga menimpa tubuhku dari atas. Saat itu aku sangat terkejut, Dodi mencium bibirku dengan lembut.

"Mama cantik sekali," katanya lembut di telingaku. Lalu dia mengecup kembali bibirku dan menjulurkan lidahnya.

"Dodi... Kenapa mencium bibir mama, sayang?" balasku dengan lembut pula. Dodi tersenyum. Dan berulang-ulang mengatakan, aku cantik. Ia mencium kembali bibirku dan mengelus rambutku.

"Jangan, Dod... mama risih," kataku. Aku berharap, Dodi menghentikan perlakuannya. Tapi malah sebaliknya, bibirku dikecupnya kembali dan sebelah tangannya menelusup di belahan kimono-ku dan mengelus buah dadaku.

"Dodi!" kataku membentak.

Dodi tersenyum. "Kenapa, Ma? Aku menyayangi Mama."
"Tapi..."

Kembali Dodi mencium bibirku dan memelukku erat sembari terus mengelus-elus buah dadaku. Aku ingin melawan, tapi sudah terlambat. Tali kimonoku sudah terlepas. Demikian juga handuk yang melilit tubuh Dodi sudah terbuang entah kemana. Kini bukan bibirku lagi yang dikecupnya, tapi buah dadaku sebelah, sudah berada dalam kulumannya dan sebelah dia remas. Aku berusaha menolak tubuhnya yang kekar itu. Sia-sia saja. Sebelah tangannya sudah menelusup mengelus vaginaku dan satu jarinya sudah memasuki lubang vaginaku.

"Dodi... Kamu ini..." Saat itu mulutnya yang berada di tetekku, sudah berpindah ke mulutku dan Dodi mempermainkan lidahnya dalam mulutku. Aku ditindihnya dari atas. Aku dikangkangkannya. Aku melawan sekuat tenagaku. Tapi aku mau bilang apa lagi, penisnya sudah berada dalam lubang vaginaku. Blesss! Penisnya masuk ke dalam vaginaku.

"Dodi... Aku ini ibumu, nak! Bagaimana ini?"

Dodi terus menekan penisnya ke dalam vaginaku. Makin dalam dan makin dalam sampai ke ujung yang paling jauh dalam vaginaku. Setelah semuanya berada dalam vaginaku, Dodi terus menjilati leherku, telingaku dan meremas-remas tetekku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Jujur saja, lama kelamaan aku menikmatinya juga. Sudah lima tahun lebih aku tidak merasakan penis berada dalam liang vaginaku.

"Dodi, jangan, nak! Aku ibumu!" hanya itu yang bisa kukatakan.

Dodi justru semakin buas dan terus memompaku dari atas tubuhku. "Mama... mama cantik sekali. Aku tak mau menikah lagi... Mama sudah ada. Semuanya sudah terpenuhi, Ma." katanya sembari terus memompa tubuhku.

"Tidak, Dodi... aku mamamu, sayang..." kataku terbata-bata dan tanpa sadar aku sudah memeluknya juga.

"Aku tak mau menikah lagi, Ma. Mama segalanya bagiku," katanya pula.

"Jangan, Dodi... nanti ketahuan." kataku.

"Kita harus pandai merahasiakannya, Ma." jawab Dodi, sembari terus menggenjotku dari atas.

"Tapi..."

"Ya, kita harus pandai menjaga rahasia ini, Ma," jawabnya. Dodi terus menggenjot tubuhku dan aku tak mungkin berkata-kata lagi, karena aku sudah berada di puncak nikmat.

"Dodi... mama sudah mau sampai, nak. Cepatlah!" kataku tak sadar. Mungkin ini pula kesalahanku yang kedua.

Dodi menggenjotku dengan lebih cepat, sampai aku memeluknya sekuat tenagaku dan menahan nafasku pada puncak kenikmatanku. Dodi menekan kuat penisnya ke dalam lubangku sembari memelukku kuat sekali. Aku merasakan tembakan spermanya berkali-kali dalam vaginaku. Aku juga melepas nikmatku sampai aku rasanya kehilangan nafasku.

Kami terkulai sejenak. Kami melepas nafas kami yang memburu. Penis Dodi keluar dari vaginaku. Nafas kami sudah normal. Dodi membopongku ke kamar mandi dan menceboki vaginaku, lalu dia mencuci penisnya. Setelah Dodi melap vaginaku dan penisnya, dia mengecup bibirku dengan lembut.

"Aku mencintaimu, Ma... Aku mencintaimu!" Aku tak bisa menjawab apa-apa. Lalu Dodi membopongku kembali ke taman belakang rumah dan meletakkan aku kembali di atas kursi malam yang terbuat dari kayu jati. Dia pakaikan kimonoku, lalu dia melilitkan handuk pada pinggangnya dan kami menyeruput segelas kopi bergantian.

"Kenapa ini bisa terjadi, Do?" tanyaku seperti menyesal.

"Karena aku mencintai mama. Aku yang salah, Ma. Tapi izinkan aku mencintaimu seumur hidupku," katanya.

"Tapi bukan begitu caranya, sayang."

"Inilah cara terbaik buatku, Ma. Izinkan aku terus melakukan ini," katanya sembari mengecup bibirku dengan lembut. Kepalaku dibelai-belainya. Aku diperlakukannya seperti anak kecil, seperti cucu anakku sendiri. Kini Dodi sudah duduk di tepi kursi malasku. Dia terus mengelus-elus kepalaku dan terus memuji kecantikanku.Tangannya mengelus tetekku dan sesekali mengecup pentil tetekku.

"Dodi, jangan ah. Nanti mama nafsu lagi. Mama sudah tua," kataku. Kata nafsu lagi membuatku menyesal, karena memang itu yang kutakutkan, aku takut bernafsu lagi. Dulu aku memang pantang disentuh suamiku, aku lantas meminta untuk disetubuhi.

"Gak apa-apa, Ma. Untuk mama, aku akan siap terus melayani," katanya. Dodi mengelus-elus perutku, terus ke bawah. Kini tangannya sudah mengelus-elus bulu vaginaku. Sesekali dia menyentuh klitorisku.

"Dodi... ah! Ntar mama jadi mau lagi. Kita tak boleh melakukan ini. Jangan, sayang!" kataku.

"Akan aku lakukan, Ma!" katanya sembari terus mengulum bibirku dan mempermainkan lidahnya. Lidah kami sudah berkaitan dan tanpa sadar, aku memegang penisnya yang sudah mengeras. Besar dan panjang. Lebih besar dan lebih panjang serta lebih keras dari milik almarhum suamiku.

Dodi turun dari kursi malasku. Dia berada di antara kedua pahaku lalu menjilati vaginaku. Hal yang belum pernah aku rasakan. Aku protes, tapi terlanjur. Dodi sudah menjilati klitorisku. Benar-benar aku merasakan sesuatu yang baru dan sangat nikmat. Aku sudah tak mampu menahan nikmatku. Aku menjepit kepala Dodi dengan kuat dengan kedua pahaku. Aku menjambak rambutnya. ”Dodiiii...!!!” hanya itu yang keluar dari mulutku, sampai jepitanku mengendur, karena aku sudah merasakan nikmatku.

"Sudah, Dodi, mama sudah sampai dan sudah tak tahan lagi," kataku. Saat itu pula Dodi justru memasukkan penisnya yang besar itu ke dalam vaginaku dan menekannya sampai amblas. Dodi membiarkan penisnya di dalam vaginaku tanpa mengerak-gerakkannya. Rambutku dielus-elusnya sampai nafasku kembali tenang dan normal.

Perlahan Dodi menarik penisnya dan memompanya kembali secara perlahan berulang-ulang dan berulang. Setelah lima menit demikian, aku kembali bernafsu dan memberinya respons. Dodi pun memberikan pompaan yang lebih agressif lagi. Kami saling merespons. Saling memeluk, saling mengecup dan saling membelai. Sampai akhirnya, aku meminta Dodi untuk mempercepat kocokan penisnya dalam vaginaku dan aku memeluknya. Dodi mempercepat kocokan penisnya dan memelukku dengan kuat juga, sampai kami sama-sama berteriak kecil penuh nikmat.

"Maaaa...."

"Ukhhh... sayaaaanngg..."

Dan kami sama-sama melepaskan nikmat kami yang tak dapat digambarkan dengan apa-saja. Kami saling berpandangan dan bertatapan dengan penuh mesra.

"Dodi, kamu jangan sampai bercerita pada siapapun," kataku. Dodi hanya tersenyum dan mengecup bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang.

***

Setelah kejadian itu, aku melihat Dodi semakin bersemangat hidupnya. Dia semakin menyayangiku. Jika kami berdua di rumah, Dodi selalu memanggilku sayang. Dodi sudah mulai keluar rumah mencari pekerjaan. Justru kini aku yang kesepian. Gila! Kenapa ini bisa terjadi? Aku membutuhkan Dodi, anakku. Membutuhkan belaiannya. Saat aku menyiapkan masakan untuk makan siang, justru aku gelisah. Aku ingin dibelai. Tapi haruskah Dodi lagi yang membelaiku? Kalau bukan dia, terus siapa? Haruskah aku mencari laki-laki yang iseng? Belum tentu aku mendapatkan kepuasan dan kasih sayang seperti yang diberikan oleh Dodi.

Cepat aku mengambil HP. Aku pencet nomornya dan... nyambung!

"Ada apa, Ma?"

"Cepat pulang dong, sayang. Mama rindu..." kataku. Dadaku begetar ketika menutup HP. Salahkah aku mengatakan kepada Dodi kalau aku merindukannya? Salahkah aku? Nampaknya aku sudah tak perduli lagi. Sudah lima tahun aku tak merasakan sentuhan laki-laki dalam usiaku 42 tahun ini.

Aku sudah siap dengan segalanya. Aku sudah memakai kimono tanpa pakaian apapun di dalamnya. Kue dan dua gelas kopi susu panas sudah kusiapkan di halaman belakang. Aku menyiapkan segalanya. Kursi malasku sudah kuratakan. Aku sudah melapisinya dengan selimut tebal, agar sedikit lebih lembut dan sedikit lebih mesra. Saat aku membenahinya, aku mendengar suara bel berbunyi. Cepat aku keluar. Aku yakin, yang memencet bel itu adalah Dodi, anakku. Benar saja, Dodi sudah berada di ambang pintu. Gerbang sudah dikunci dan sepeda motor langsung dimasukkan ke dalam rumah, bukan ke garasi. Dia tersenyum. Manis sekali senyumnya.

"Ma, aku juga sudah rindu sama mama. Aku ingin seperti dua hari lalu," katanya menggandeng tanganku.

Aku membawanya ke belakang rumah, taman yang asri dan teduh. Dengan cepat dia menggamit sebuah handuk besar dari jemuran. Dilepasnya semua pakaiannya. Aku dipeluknya dan mengecup bibirku. Oh... aku sudah tak tahan menantikan ini. Aku membalas kecupannya dengan hangat. Kami saling memagut.

"Oh, sayangku... cintaku..." bisiknya di telingaku. Aku melayang, kata-kata mesra itu. Nafsu membuncah-buncang tak menentu. Aku limbung. Dodi membopongku ke kursi malas. Aku direbahkannya. Mulai Dodi menjilati leherku, mengecup bibirku, menjilati leherku kembali dan terus menjilati buah dadaku. Perutku tak luput dari jilatannya. Kemudian wajahnya sudah berada diantara kedua pahaku. Kedua kakiku sudah mengangkang. Oh... lidah itu, bermain-main di sana. Aku membayangkan lidahnya menari bagaikan penari jaiponngan yang geraknya lincah dan gemulai.

"Oh... oh..." kataku tak beraturan.

"Aku akan memberikan yang terindah untuk mama," katanya.

Kami berpelukan. Kutuntun penisnya yang sudah tegang, keras dan panjang itu memasuki lubang vaginaku. Aku sudah tak tahan. "Ayo, nak... sirami mama, sayang!" kataku tanpa malu lagi.

Perlahan Dodi memasuki lubang vaginaku yang sudah basah kuyup. Perlahan penis itu memasukinya sampai semuanya habis. Ujungnya menyentuh-nyentuh pangkal lubang vaginaku yang teramat dalam. Aku benar-benar sudah basah. Basah...

Clepp... plok... clepp... plok, suara itu berganti-ganti terdengar dengan irama yang temponya sama. Aku sudah tak mampu menahan nafsuku. Kupeluk Dodi dan menggigit bahunya dengan kuat sembari mendesah. Kujepit pinggangnya dengan kedua kakiku. Aku memeluknya erat sekali. Aku sudah tak mampu menahan nikmatku. Dan aku melepaskan semua yang tertumpah dari tubuhku yang terdalam.Berkali-kali dan berkali-kali, sampai akhirnya aku melepaskan pelukanku dan aku lemas.

"Mama sudah sampai?"

"Maafkan mama, nak. Mama sudah tak mampu membendungnya..."

Aku melihat Dodi sedikit kecewa. Kubiarkan dia terus memompa tubuhku, sampai akhirnya dia melepaskan spermanya dalam lubang vaginaku. Kami bepelukan dan saling mengecup sebagai ucapan sama-sama mengucapkan terima kasih kami. Setelah membersihkan diri, kami duduk di taman kecil itu. Kami menyeruput kopi susu yang masih hangat. Dodi memelukku dari sisi kiriku. Betapa mesranya pelukan itu. Pelukan yang tak pernah aku rasakan dari almarhum suamiku. Kami bercerita tentang sekolah cucuku, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Sesekali kami bercerita sembari tertawa kecil. Layaknya dua pasang pengantin remaja yang sedang berbulan madu.

Dodi memelukku sembari meraba-raba buah dadaku. Dielusnya buah dadaku dengan lembut. Tak lama tangannya sudah berada di bulu-bulu kemaluanku, sembari lidahnya terus menjilati leherku. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain menikmatinya. Kini salah satu ujung jarinya sudah mengelus-elus klitorisku dan aku semakin merasakan nikmatnya. Tubuhku seperti menggigil dan aku merasakan diriku kembali melayang. Kulepas handuk Dodi dan aku menaiki tubuhnya sembari memeluknya.

"Kita ulangi, Ma?" katanya lembut seperti mengejekku.

"Kamu yang memulai, sayang. Mama sudah basah lagi," kataku.

"Mama raihlah dan dan mama masukkan sendiri," katanya lagi seperti mengejekku. Aku tak perduli ejekannya. Kuraba penisnya yang juga sudah mengeras. Kutuntun penis besar, panjang dan keras itu memasuki lubangku. Kutekan tubuhku, agar penis itu benar-benar habis tertelan oleh vaginaku. Oh... penis itu sudah menyentuh bagian dalam vaginaku yang teramat dalam. Bulu-bulu penisnya, seperti mengelitik klitorisku. Aku tak mampu menahan diri. Aku mulai meliuk-liukkan tubuhku mencari kenikmatanku. Dodi mengisa-isap buah dadaku bergantian. Kedua tangannya mengelus-elus tubuhku.

Enak saja Dodi mengangkat-angkat tubuhku yang beratku hanya 53 kg sementara Dodi berat tubuhnya berkisat 79 kg. Tubuhnya juga tinggi, berkisar 175 cm sedang aku hanya 55 cm. Aku melingkarkan kedua tanganku di tengkuknya dan merapatkan dadaku ke dadanya. Gesekan pentil tetekku ke dadanya, membuatku semakin merasa nikmat. Sebelah tangannya mengelus-elus duburku dengan lembut. Ah... aku tak mampu lagi mengatakan apa pun, selain mendesah. Kenapa selama ini, aku tak pernah merasakan kenikmatan sex sepertai sekarang ini? Kenapa? Tapi aku tak menyesal. Kini aku menikmatinya saja.

Dengan kuat Dodi menekan tubuhku semakin rapat ke tubuhnya dan sebelah tangannya mencengkeram pantatku. "Sayang... ayo cepat, aku sudah mau sampai..." katanya.

"Iya, mama juga sudah mau sampai, sayang. Ayo lakukanlah... semprotlah tubuh mama, sayang!"

Dodi memelukku semakin erat. Tubuhnya bergetar kuat. Cengkeramannya pada pantatku semakin kuat dan ciumannya pada leherku semakin kuat juga. "Oh, mama. Sejak SMP aku mencintaimu, sayang. Nikmat sekali, sayang!"

"Ayolah, Dodi sayang. Puaskan dirimu, Nak. Ayo, Nak. Jangan buat mama gila, sayang..." Ah, aku tak mampu. Tak mampu. Aku melepaskan kenikmatanku. Dodi juga menyemprotkan spermanya ke dalam liangku. Kami benar-benar berpelukan semakin erat dan kuat. Rasanya tubuhku seperti hancur dipeluknya sekuat tenaga. Sampai akhirnya, kami sama-sama melemah. Nafasku terengah-engah.

"Mama cantik sekali..." bisiknya. Aku memaksakan senyumku dalam nafasku yang sangat terburu-buru. Dodi mencium keningku dengan lembut. "Aku ingin menikahimu, sayang..." katanya.

Aku diam saja. Karena itu tak mungkin sama sekali. Tapi Dodi justru menyelami tanganku dan berkata sendirian, "Kunikahi engkau dengan sepenuh hatiku. Dengan mahar, diriku sendiri," katanya tulus. Aku meneteskan air mata.

"Ayo jawab, sayang..." katanya berbisik di telingaku.

"Aku terima maharmu dengan tubuhku sendiri," kataku latah.

Dodi tersenyum manis dan aku juga tersenyum. Dia membopongku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu usai membersihkan diri, aku mendengar ada suara bel berbunyi. Pasti cucuku pulang sekolah. Ya ampun, tak sadar sekian jam kami bermesraan di taman belakang. Aku cepat keluar dan memakai kimonoku. Aku buka pintu dan memeluk cucuku. Dodi masih di kamar mandi membersihkan dirinya.

***

Selalu saja Dodi hampir keceplosan. Untung orang yang mendengarnya tidak menangkap.

"Kita mau makan apa, sayang?" kata Dodi padaku saat kami memasuki restoran. Kalau aku yang mengatakan itu, mungkin orang tak curiga. Tapi jika Dodi yang mengatakan itu, pasti orang tanda tanya. Usia Dodi, separuh dari usiaku.

Aku tak mengerti, semangat hidup Dodi semakin meninggi dan dia kerja selalu saja lembur. Uangnya bisa terkumpulkan dengan baik di salah satu bank. Jual beli mobil bekas yang ditekuninya semakin membuahkan hasil. Aku juga demikian, aku selalu siap bekerja menjualkan perhiasan berlian dan berbagai bentuk perhiasan dari emas. Kami maju bersama. Dodi justru sudah memiliki sebuah mobil sedang, walau bekas. Untuk mengatasi kesibukan, kami pun sudah memiliki seorang pembantu. Setelah cucuku pergi sekolah, aku menyarankan kepada pembantu untuk masak apa hari ini. Aku keluar rumah dengan Dodi pukul 09.00 Wib. Setelah mengantarku, Dodi pergi ke tempatnya mangkal untuk mencari mobil atau mencari pembeli mobil. Terkadang dia hanya mendapatkan komisi saja. Hasilnya lumayan banyak.

"Ma, Mama aku jemput ya? Aku sudah sangat kepingin. Kita ke hotel," katanya. Jam baru menunjukkan pukul 11 siang. Akhirnya aku setujui, karena sebenarnya sejak tadi malam aku juga sudah menginginkannya.

Kami menuju puncak melalui jalan tol. Kami menyewa sebuah kamar di hotel kecil. Setelah mobil masuk ke dalam garasi, pintu garasi langsung kami tutup. Dari pintu kamar depan, seorang pelayan mendatangi kami dan Dodi langsung membayar sewa kamar. Nanti kami tinggal membuka garasi dan langsung pergi pulang.

Setelah semua beres dan minuman serta makanan kami pesan dan sudah terhidang di meja kecil, kami menyantapnya dengan lahap di udara yang dingin dalam rinai gerimis. Usai makan, kami langsung mencuci mulut dan menyabun tangan kami di kamar mandi.

"Ma, aku sudah gak tahan," katanya merengek, persis rengekan anak SD.

Aku tersenyum. Aku langsung membuka pakaianku. Dodi juga menelanjangi dirinya dengan cepat. Blur..!!! Penisnya yang mengeras keluar dan berdiri seperti tiang bendera. Dodi langsung menerkam dan menciumi bibirku. Kami berpelukan dan saling membelai.

"Ma, jilatin dong punyaku!" pintanya. Aku menggeleng, karena aku tak mampu. Dodi diam saja dan tersenyum. "Oke, Ma. Kapan-kapan ya. Kalo mama sudah bersedia." katanya.

Kini dia menuntunku ke tempat tidur. Aku terbaring di tempat tidur. Dodi menindihku dari samping dan mulai menjilati tubuhku. Remasan pada buah dadaku dan jilatan-jilatannya membuatku selalu saja merasa nikmat. Sekujur tubuhku sudah dijilatinya, sembari mengelus-elusnya.

Dodi mengarahkan jilatannya pada vaginaku. Klitorisku menjadi sasarannya. Aku merasakan, ini adalah permainan yang selalu kutunggu. Betapa terkejutnya aku, ketika lidah Dodi mulai menjilati lubang duburku. Ujung lidahnya berputar-putar pada lubang duburku. Aku menggelinjang.

"Dodi, jangan, sayang! Jijik, Nak!" kataku sembari menggelinjang. Dodi bukan malah diam, melainkan semakin memutar-mutar lidahnya pada duburku. Aku sudah tak mampu membendung hasratku. Kutarik kepalanya agar dia menindih tubuhku dan menyetubuhiku. Langsung kudekap tubuhnya dan kuarahkan penisnya ke lubang vaginaku.

Vaginaku yang basah, langsung menelan penisnya yang besar dan panjang serta keras itu. Aku mulai menggoyang pinggulku dari bawah. Dodi menggenjotku dari atas. Kami terus melakukannya berkisar 12 menit. sampai akhirnya kami sama-sama mendesah dan berpelukan erat. Kami sama-sama sampai pada batas kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku membelai rambut Dodi dengan kasih sayang. Kami tidur bersisian sembari berpelukan.

***

Kutuang air mineral ke dalam gelas. Kami meminumnya bergantian sampai habis satu botol ukuran sedang. Kami kembali berbaring dan menghela nafas kami. Lima belas menit kemudian, kami sudah kembali segar. Dodi mulai lagi menciumiku. Aku berpikir, anakku tak puas-puasnya kah menyetubuhi diriku? Aku sendiri tak puas-puasnya kah menerima tubuh Dodi yang menggenjot tubuhku? Kami ternyata sama-sama membutuhkan dan kami aman. Karena rahasia dapat kami jaga dengan ketat.

Kembali Dodi menjilati lubang duburku dan aku kembali menggelinjang kenikmatan. Dodi memintaku untuk menungging yang katanya gaya anjing. Kami sudah berkali-kali melakukannya dan memnag mendapatkan sensasi yang luar biasa. Aku mengikuti kehendaknya, aku menungging di ujung tempat tidur. Dodi pun kembali menjilati lubang duburku. Sebelah tangannya mengelus-elus klitorisku. Aku merasakan ujung penis Dodi menyentuh lubang duburku.

"Dodi, bukan itu lobangnya, sayang!" kataku.

"Mama diam saja. Mama Nikmati saja. Nanti rasanya akan nikmat," katanya.

Aku membiarkannya. Ujung penis itu dia putar-putar di ujung lubang duburku. Perlahan Dodi menekan penisnya ke dalam duburku. Duburku yang sudah basah oleh ludahnya, terus ditusuknya. Aku merasa sakit. "Sakit, sayang...!" aku merintih.

Dodi mendiamkannya sejenak, kemudian menekan kembali. Aku merasakan sesuatu yang sangat berat. Sebelah tangannya terus mengelus-elus klitorisku. Ketika kujamah penisnya, aku yakin, penis itu sudah separoh menembus duburku. Dodi mendiamkanya sejenak, kemudian menembusnya lagi. Kemudian mendiamkannya, lalu menembusnya sampai ketika kuraba, penisnya sudah berada penuh dalam duburku.

"Sakit, sayang..." kembali aku merintih. Dodi terus mengelus-elus klitorisku. Aku merasakan nikmat. Saat itu, perlahan Dodi menarik penisnya berkisar sepertiga (mungkin), kemudian dia tusuk kembali. Menarik sedikit dan menusuknya. Begitu seterusnya.

"Perih, sayang..." kataku.

”Sebentar, Ma. Ini perawan mama untukku. Setelah terbiasa, nanti mama akan ketagihan," katanya.

Aku diam saja. Sampai akhirnya, aku merapatkan kedua kakiku dan aku mulai merasakan kenikmatan. Sepertinya aku sedang memotong-motong tinja yang keluar dari duburku. Dodi meringkih. "Teruskan, Ma. Enak! Teruskan, sayang. Enak, sayang..." desahnya.

Aku terusmelakukannya dan aku juga merasakan kenimatan. Sampai akhirnya, aku tidak merasakan perih lagi saat Dodi mempercepat kocokan penisnya di dalam lubang duburku. Aku merasakan nikmat luar biasa.
Dodi memeluk erat tubuhku dari belakang dan aku meremas bantal yang mengganjal wajahku.

Saat itu Dodi mencabut penisnya dari duburku dan aku merasakan nikmat luar biasa. Kemudian dia mencucukkannya ke lubang vaginaku. Dan croot... croot... croot... Spermanya muncrat memenuhi vaginaku. Kujepit penis itu sekuat tenaga. Aku mengerang kenikmatan. Sampai penis Dodi keluar dengan sendirinya karena sudah mengecil. Aku merebahkan tubuhku. Aku berkeringat. Dodi membelai-belai kepalaku dan menciumi kening dan pipiku.

Setelah minum air putih, kami terbaring sejenak. Setelah segar, kami mandi air hangat dan kami bersiap untuk pulang ke rumah. Kami harus tiba di rumah pukul 16.30. karena pembantu akan pulang pukul 17.00.

Sepanjang jalan kami tersenyum dan kami bercerita tentang apa saja. Tapi kami tak pernah sepatah katapun bercerita tentang persetubuhan kami. Tak pernah!

***

Tak terpikirkan selama ini. Aku dan Dodi terlalu asyik. Sudah sepuluh hari aku terlambat datang bulan. Aku membisikkan kepada Dodi. Dia juga terkejut. Kami singgah di sebuah tempat untuk makan minum pagi itu, walau kami dari rumah sudah sarapan.

"Apa yang kita lakukan, sayang? Andaikan UU tidak melarangnya, aku akan menikahi Mama," katanya setengah berbisik. Aku tersenyum. Aku tahu, Dodi sangat menyayangiku.

"Mama harus gugurkan, sayang!" kataku berbisik pula. Kulihat wajah Dodi tertunduk lesu.

"Kalau saja..."

"Ya sudah. Kita harus menjaga keadaan. Kita harus merelakannya untuk dibuang," kataku.

Aku ingat seorang teman lima tahun lalu menggugurkan kandunganya dengan ramuan tradisional. Aku menelponnya. Aku mengatakan, kemana aku harus menggugurkan kandunganku? Temanku itu terperanjat. Dia memintaku untuk datang. Aku meminta Dodi untuk mengantarkan aku ke rumah teman akrabku itu. Aku minta Dodi meninggalkan aku, nanti aku akan hubungi dia via HP untuk menjemputku. Dodi setuju. Temanku tak menanyakan dengan siapa aku melakukannya, hingga aku hamil. Dia pasti mengetahui, aku melakukannya dengan seorang laki-laki yang amat kucintai. Karena dia tahu, aku orang yang tidak liar, seperti dirinya.

Aku dibawa ke rumah seseorang. Ketika nadiku dipegangnya, orang itu mengetahui kalau aku sudah terlambat haid. ”Ini masih gampang, karena baru beberapa hari,” katanya. Dia mengambil ramuan dari tiga buah topless kaca. Ramuan itu disedu dengan air panas. Setelah suam-suam kuku, aku meminumnya. Kemudian dia memberiku dua sendok makan ramuan itu yang dibungkus pakai kertas. Setiap lima jam harus diminum. ”Besok pagi sudah keluar,” katanya. Aku menjadi tenang. Bayarannya tidak mahal. Hanya Rp. 50.000,- Setelah haid datang, tiga hari kemudian aku disuruhnya untuk kembali datang.

Benar sekali. Besok paginya berkisar pukul 07.00 aku sudah haid seperti biasa. Haidku kental dan hitam. Aromanya lebih anyir. Aku melaporkannya kepada Dodi. Dengan lesu Dodi mengecup bibirku sejenak. Wajahnya murung.

"Anakku telah terbuang, Ma."

"Tak ada jalan lain, sayang," bisikku menenangkan gemuruh dadanya.

Aku kembali datang ke rumah pembuat ramuan itu. Dia berkata, sebaiknya aku tidak hamil lagi dan tidak melahirkan lagi, karena usiaku sudah menua. Aku setuju. Dia memberiku ramuan untuk dua minggu. Bulan depan untuk satu mingu dan bulan depannya lagi untuk tiga hari dan seterusnya tiap bulan tiga hari minum ramuannya. Aku setuju. Aku membayar Rp.75.000,- Nanti setiap datang aku akan membayar Rp. 25.000,- Aku setuju. Menurutku sangat manjur dan sangat murah.

Dalam perjalanan, kami singgah di sebuah warung kecil agak di sudut. Ada bangku memanjang di bawah sepohon rindang. Di sanalah aku diciumi oleh Dodi. Dia mengelus-elusku.

"Tunggu sampai kering, sayang. Tiga hari lagi, kita sudah bisa mulai," kataku menyabarkannya.

Malamnya, di rumah, setelah cucuku tidur, dia dimasukkan ke dalam boxnya di kamarku. Kali ini Dodi tak mau tidur di kamarnya. Dia menemani aku tidur di kamarku. Dengan telaten, dia mengganti pembalutku. Aku risih sebenarnya, tapi Dodi memaksa.

"Sayang, aku sangat mencintaimu. Izinkan aku mengurusmu," katanya lembut. Aku pun tersanjung sekali. "Aku sudah tak tahan, sayang..." bisiknya.

"Bagaimana, kan masih belum kering?" kataku.

Akhirnya kami sepakat, kami harus pindah kamar ke kamarnya. Aku memberinya lotion. Aku mengelus-eluskan lotion itu ke batang penisnya, lalu ke lubang duburku. Aku menungging dan perlahan Dodi menusukku dari belakang. Licin dan tak perih lagi seperti pertama kali.

Kocokannya semakin cepat dan cepat. Aku merasakan darah haidku berdesir-desir membanjir dari vaginaku. Aku merasakan nikmatnya. Kami pun terus melakukannya sampai kami merasakan puncak nikmat yang luar biasa.

Hanya lima menit kami istirahat. Dodi membopongku ke toilet. Kami membersihkan diri. Aku mengganti pembalutku. Dibopongnya aku kembali ke kamar tidurku. Aku melihat cucuku tertidur dengan pulasnya. Dodi tidur di sisiku malam itu, Kami berpelukan dan saling membelai. Akhirnya, setelah menjelang subuh, kami belum juga memejamkan mata. Kami tak bersuara sedikitpun. Hanya nafas kami yang mendesah-desah dan tangan kami saling mengelus-elus.

"Sayang, aku mencintaimu!" bisik Dodi ke telingaku.

"Mama juga mencintaimu, Nak..."

"Aku kepingin lagi, Ma!”

"Tak puas-puasnya kah, sayang?"

"Aku kepingin, Ma..."

Aku bangkit. Kubuka celana pendeknya. Kukeluarkan penisnya. Aku mengelus-elusnya. Perlahan aku memberanikan diri untuk menjilati batang penis yang besar itu. Aku memulainya dari bawah, ke ujung dan memutar-mutar lidahku pada ujung penisnya sebelah bawah. Perlahan aku memasukkannya ke dalam mulutku.

"Sayang, jagan kena giginya dong. Sakit!" bisik Dodi.

Aku menyadarinya. Aku mulai perlahan mengulumnya dan memasukkannya ke dalam mulutku. Aku merasakan Dodi menjepit kepalaku dengan kedua pahanya dan menjambak-jambak kecil rambutku. sampai pada pucaknya, Dodi menusukkan penisnya sedalam-dalamnya ke rongga mulutku dan dia melepaskan sperma di dalam rongga tenggorokanku. Setidanya tiga kali. Kepalaku ditariknya kuat-kuat dan penisnya terbenam di dalam. Aku seperti susah bernafas. Tak lama, penis itu mengecil dan Dodi melepas kepalaku.

"Terima kasih, Ma," bisiknya.

Aku tersenyum. Aku telah memberikan kepuasan kepadanya. Aku lupa kalau hari ini Senin. Kami melakukannya setiap Senin, Rabu dan Sabtu. Jatah itu sudah kami atur. Kecuali kalau terkadang Dodi benar-benar kebelet atau aku yang kebelet minta disetubuhi.

Setelah meminum ramuan jamu, kami menjadi aman. Aku tak pernah hamil. Kini usiaku sudah 49 tahun. Sudah tujuh tahun lebih kami melakukan persetubuhan dengan rahasia yang ketat. Kami tak pernah bosan.

ASYIKNYA NGENTOT DENGAN JANDA BINAL


|     CERITA SEX     |


Bis direncanakan berangkat pukul 17.00 dari tempat jasa wisata tersebut. Peserta berkumpul dan mulai masuk bis yang disediakan dengan nomor kursi yang telah ditetapkan.

Peserta kebanyakan kaum muda yang sedang lelah bekerja dan ingin santai menikmati suasana lain di luar kantor. Oh iya sebelumnya aku perkenalkan dulu namaku Tony pegawai Bank swasta di kota Malang dan… “Permisi, di sini tempat duduk Nomor 6B?”, tanyaku pada seorang wanita yang duduk di sebelah jendela dengan kaca mata hitam yang tetap terpasang di matanya.

“Oh iya benar, mari silakan”, jawabnya seraya melepas kacamata serta mengemasi barang-barangnya yang menempati tempat dudukku.

Aku taksir, dia berusia sekitar 26 tahun dengan tinggi badan berkisar 165, cukup tinggi tentunya, rambut hitam pekat, kulit putih mulus serta memakai baju yang cukup ketat dengan kancing terbuka sebiji dan warna kontras dengan kulitnya yang putih, alis matanya cukup tebal dan…,

ukuran dadanya kuperkirakan 34 dengan cup B seolah akan menyembul keluar, aku menarik nafas dalam-dalam. Aku duduk dengan sedikit basa-basi menanyakan sudah berapa kali dia mengikuti acara seperti ini, dia jawab sering tetapi melalui biro jasa ini masih sekali.

Bis berjalan perlahan meninggalkan kota Malang, kami masih asyik berbincang sambil sesekali aku melirik bagian dada yang cukup menantang tersebut, kubayangkan seandainya dada tersebut dapat kuraih, ahh…, Gaya bicaranya yang lugas dan tanpa ditutup-tutupi membuatku betah untuk terus bercakap mulai masalah ringan sampai masalah yang spesifik. Dia bernama Eni.

“En…, Sorry ya kamu udah married ya”, tanyaku seenaknya.
“Lho kog nanyanya ke situ, emangnya kenapa sih Mas Ton”, rengeknya manja.
“Terus kalo aku udah merried kenapa dan kalo belum kenapa kog serius banget sih”, sambungnya sambil tersenyum.
“Eh nggak kog cuman nanya aja biar aku tahu siapa kamu, ntar kalo kita akrab aku takut ada yang marah”, jawabku pura-pura bingung.
“Aku cerita ya, nanti ganti kamu ya”, aku cuma mengangguk mendengarkan.

“Aku kawin muda 18 tahun karena kecelakaan Ton, dan setelah anakku lahir suamiku tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, akhirnya aku bercerai dan melanjutkan kuliah sampai selesai dan berusaha sendiri dengan modal yang diberikan orang tuaku, aku bergerak dibidang percetakan, anakku berusia 7 tahun tinggal bersama orang tuaku hanya sesekali saja aku menjenguknya jika rindu, ah…, udah ah jangan diterusin, aku ke sini ini bukan untuk bagi cerita lho, aku pengin santai abis kerja gitu aja…, nah akupun juga demikian nggak pengin tahu kamu lebih jauh yang pentingsaat ini kita satu bis bersama kan”, jawabnya lugas.

“Iya deh sorry aku nggak nanya lagi”, sambil kutoleh wajahnya dan tak lupa kucuri pandang ke arah dada yang montok itu.

Malam semakin larut aku semakin akrab saja sama Eni, kusodorkan jaketku melihat dia merasa kedinginan karena AC di bis cukup kencang, sedangkan dia memakai pakaian yang cukup minim. Dia menerima dan menutupkan pada bagian depan dadanya.

Eni kelihatan mulai mengantuk. Tanpa terasa Eni mulai terlelap dan bersandar di bahuku. Terasa hangat, dengan sedikit keberanian kujulurkan tanganku untuk memeluknya, aku beruntung karena dia tidak menghindariku bahkan semakin menempatkan diri dalam rengkuhanku.

Bis sudah memasuki kota Situbondo dan Eni semakin terlelap dalam tidurnya. Sebagai lelaki normal melihat hal seperti ini timbul rasa isengku setelah menyadari bahwa benda lunak di dada Eni menempel pada kulitku, lunak dan lembut apalagi pada waktu bis melewati jalan berliku dan bergelombang gesekan dadanya semakin kuat terasa, aku mulai merasakan ada yang bergerak di dalam celanaku, semakin keras dan keras.

Lampu bis dipadamkan dan kulihat bangku disebelah kiriku sudah terlelap juga. Aku mulai mengadakan kegiatan gerilya, dengan perlahan namun pasti kujulurkan tangan kananku yang sedang memeluk ke arah bawah ketiaknya, kusentuh dengan lembut gumpalan daging yang sejak tadi kuincar.

Ah…, kenyal dan lembut, Eni menggeliat namun tetap diam, aksiku makin berani melihat kondisi ini, kusingkap perlahan kaosnya dari bawah melalui pinggangnya yang ramping, dengan berani kuraih payudaranya sebelah kanan dengan menyingkap BH-nya, kurasakan ujung payudaranya mengeras, kuusap lembut dan semakin mengeras, dia menggeliat terbangun sedikit mengerang dan berbisik,

“Mas…, kamu nakal…, Jangan ah”, pintanya tanpa berusaha melarang lebih lanjut. Kenakalanku semakin menjadi, kucium wajahnya sekilas dia malu dan merunduk, menempelkan wajahnya di dadaku dan merunduk, kulanjutkan usahaku mengusap terus payudaranya yang kenyal.

Batang kemaluanku semakin mengeras tampaknya dan dia mengetahui, perlahan dia sentuhkan tangannya ke kemaluanku dan dia menatapku. “Aku…, Aku…”, belum sempat dia bicara, kusorongkan bibirku dan disahutnya dengan mesra. Kulihat sekelilingku masih tetap terlelap dan aku terus meremas payudaranya sambil mempermainkan puting susunya yang semakin mengeras tersebut.

Aku semakin menjadi dan merasa aman saja karena bagian dada Eni tertutup dengan jaket hangatku, dan tangan Eni juga tidak diam dengan cekatan dan terampil tanpa komando dielusnya penisku dari luar yang semakin mengeras itu dan aku semakin tak tahan karena geli. Waktu menunjukkan pukul 04.00 sat bis memasuki hotel di Bali, sesuai dengan kamar yang dipersiapkan aku bersebehan dengan kamar Eni, kubantu dia menurunkan barang-barangnya untuk dimasukkan dalam kamarnya.

Pada pengangkatan barang yang terakhir dipersilakannya aku duduk dulu, tapi aku sudah tidak sabar lagi, pintu kututup dan kuraih pinggang rampingnya, kusorongkan bibirku dan diraihnya dengan ganas. Aku dan dia saling melumat, tanganku mulai bergerak menangkap gumpalan di dadanya,

sambil berjalan kududukkan dia di spring bed sambil kupeluk dan kuraba punggungnya, kini sampailah pada pengait BH, kutarik pengaitnya dan lepas, aku semakin bebas memegang buah dadanya dan dia menggeliat liar sambil mendesis, kancing T-shirt yang dikenakan kutarik sampai lepas dan dengan segera kulepas T-shirtnya.

Aku terkagum, kulihat pemandangan yang sungguh menakjubkan gadis berbody bagus dengan dada terbuka tergolek indah, seperti gunung kecil yang mencuat dengan puncak coklat kemerahan manantang, kulit putih mulus dengan memakai celana panjang dia terpejam, mulutku mulai menyusuri wajah turun ke leher dan akhirnya menancap pada ujung payudaranya…, Kuhisap…, terus sambil tak henti-hentinya tanganku meraba pada bagian lain.

“Oh…, Mas…, Maass”, erangnya.

Tanganku mulai turun ke bawah, kubuka kancing celananya dan perlahan kumasukkan tanganku pada bagian lunak berbulu lebat dan mulai basah. Kuusap dengan lembut, dia tidak menolak bahkan memegang tanganku untuk lebih lama tinggal di tempat basah tersebut.

Kumasukkan perlahan jari tanganku…, basah dan semakin basah, dia semakin liar bergerak dan kulihat wajahnya memerah. Tanganku berhenti pada benda kecil yang ada diantara bukit berbulu tersebut, dengan lincahnya kuputar-putar benda kecil yang bernama clitoris dan kudapatkan vaginanya semakin berair.

” Aku nggak tahan Mas…, ah…, aahh”, dipeluknya aku erat-erat dan mulutku masih tetap menghisap ujung buah dadanya. Dengan gerak gemulai dia menurunkan seluruh kain yang menempel di tubuhnya, kini semuanya nyata, gadis dengan kulit mulus tanpa cela tergolek mesra di ranjang. Dengan ada bagian hitam legam penuh bulu menarik sekali nampaknya.

Ditariknya dengan keras tanganku untuk menjauh dari kemaluannya, dan dengan tiba-tiba dia terbangun, didorongnya perlahan tubuhku sampai telentang dan dia mulai merabaku dengan ganas, ditariknya kancing bajuku, celanaku, semuanya terlepas tinggal celana dalamku saja, kami tersenyum dan dengan perlahan Eni mulai melakukan aksinya,

dihisapnya dadaku dan dikecupnya perlahan, dia meraba celana dalamku dari luar pelan dan terasa nikmat, tangannya yang lentik mulai merambah ke dalam celana dalamku dan “Breeet”, ditariknya keluar batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri.

“Wooow”, serunya berdesah,
“Belum pernah aku melihat benda yang seperti ini”.

Kulirik kemaluaku dengan ujung yang membonggol memerah dan berdenyut keras.

“Ini punya manusia apa kuda?”, tanyanya manja.

“Punya manusia dengan ukuran kuda”, jawabku terpejam dan pada saat itu pula kulihat ujung kemaluanku sudah masuk dalam mulut Eni. Memang kabarnya sih (nggak GR lho, pada waktu luang aku mencoba mengukur kemaluanku ternyata memiliki panjang 17,5 cm dan lingkarnya cukup segenggaman tangan normal) disedotnya kemaluanku sampai pipinya kelihatan cekung.

Mataku terpejam merasakan nikmatnya sedotan Eni. Tanganku meremas rambutnya sambil sesekali kutarik rambutnya. Tidak berhenti sampai di situ saja biji kemaluanku tidak luput dari keganasan mulut Eni, terasa bergerinjal dan licin.

Aku mengerang dan Eni semakin gila memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya yang mungil dengan cepat keluar masuk sampai terlihat otot kemaluanku semakin memerah dan tanganku juga tidak mau diam dengan meraih kemaluan Eni, kukucek dengan jemariku memelintir clitorisnya. Dia mulai memuncak, dipegangnya gagang kemaluanku dan ditutunnya ke dalam liang vaginanya, dia mendudukiku.

” Sekarang ya Maassss aku nggak kuat…, hoooooo”, erangnya.

Aku diam saja dan, “Brreessss”, ditekannya kuat-kuat vaginanya menutupi kemaluanku. Aku geli bukan kepalang, tapi kulirik masih kepala kemaluanku saja yang tenggelam dalam vaginanya, digoyangnya lagi vaginanya perlahan, centi demi centi kemaluanku amblas dilahap vaginanya. Dia menjerit dan mengerang begitu merasakan vaginanya penuh dengan kemaluanku, sesak rasanya kemaluanku tidak dapat bergerak di dalam vaginanya.

Kami diam sejenak, aku rasakan kemaluanku seperti dipijat-pijat dan berdenyut, “aahh”, erangku. Eni mulai bergerak maju mundur dan naik turun. Semakin lama semakin cepat disertai erangan manja yang membuat aku semakin terangsang. Kupegang pinggangnya untuk membantu lancarnya gerak kemaluanku mengucek kemaluannya.

Dan, “Ooooohh…, dengan kuat sekali dia memelukku dengan kaku sambil berteriak histeris. “Ampuuuuuuun aku nggak kuat mau keluar Ton”, erangnya. Kurasakan semakin licin kemaluanku mengocek kemaluannya. Dipeluknya aku erat-erat dan kurasakan adanya kuku yang menancap di punggungku.

“Jangan gerak dulu Ton aku nggaak kuat…”, pintanya.

Kudiamkan kemaluanku tetap bersembunyi di vaginanya. Tidak lama kemudian dia lemas dan telentang, kulihat kemaluanku masih tegak berdiri dan siap menghunjam. Kuambil handuk dan kuusapkan pada vaginanya yang basah. Setelah kering kucoba memberikan rangsangan dengan membiarkan mulutku menjilatinya. Dan ajaib, Eni mulai terangsang lagi, Eni menggeliat begitu lidahku mempermainkan clitorisnya, kugigit kecil dan kudengarkan suara teriakannya semakin menjadi.

Disorongkan pantatnya dan hidungku ambles ke lubangnya, tercium bau segar vaginanya dan batang kemlauanku semakin keras memerah. Aku berdiri dengan memegang batang kemaluanku, kusibak rambut di seputar kemaluan Eni dan kugesek-gesekkan kepala kemaluanku menyodok clitorisnya, dia semakin menggila. Kutuntun pelan-pelan dan tidak seperti pertama tadi, batang kemaluanku lebih mudah menerobos vagina Eni yang sudah mulai membanjir itu.

Dengan lancar mulai kugerakkan keluar masuk ke vaginanya, Eni menggoyangkan pantatnya mengimbangi permainanku sembari tangannya menggapai punggungku dan sesekali desisan suaranya menambah rangsanganku.

“Teruuuus…, Tooon,…. aahh”.
“Yaahh.
“Ahh.

Semakin lama semakin kurasakan mudah menggoyang kemaluanku dan terasa berkecipak suara beradunya vagina Eni dan kemaluanku. Kepalaku mulai hangat dan kemaluanku mulai meregang.

“Ennnnnn…, aahh.
“Apa Ton.
“Aku nggak kuat En…, Mau keluar.
“Aku sudah tiga kali Ton…, Tapi sebentar Ton.

Tiba-tiba ditariknya batang kemaluanku dan dikocok sambil mulutnya menghisap ujung kemaluanku, dengan rakusnya ditarik dan dimasukkan secara cepat kemaluanku pada mulutnya yang mungil dan tak henti-hentinya dia berguman, aku semakin geli dan geli, “aahh”,

sesaat kemudian, “Srreeeett”, kurasakan ada sesuatu zat yang keluar dari kemaluanku dan tidak disia-siakan oleh mulut Eni, dihisap dan hisap terus, tak terasa mulut Eni penuh dengan tumpahan air maniku bahkan ada beberapa yang sampai ke pipinya.

Dia tersenyum, dibersihkannya kemaluanku dengan mulutnya sambil terus diciumi tanpa henti dan pecah rasanya kepalaku menahan geli yang tidak terkira. Aku tergeletak tak berdaya dengan keringat mengucur dari setiap centi tubuhku. Dipeluk, dikecupnya tubuhku oleh Eni. Dipegangnya kemaluanku yang mulai mengecil dan diciumnya kembali.

“Aahh…, sudah dulu ah…, aku masih payah”, pintaku manja.
“Enggak kog aku cuma membersiin yang tadi saja, ini masih ada sisanya kog”, sambil terus melumat kemaluanku dan menghisapnya hingga bersih.
“Terima kasih ya Ton…, kamu hebat”.

Kuusap rambut dan tubuhnya yang polos,

“Ah…, sama saja, aku belum pernah merasakan hal yang heboh seperti ini”.

Paginya rombongan melanjutkan perjalanan ke obyek wisata dan aku tidak lepas-lepas mengamit lengan Eni dan dia bergelayut dengan manja. Sepulang dari wisata Bali petualangan seks-ku dengan Eni terus berlanjut sampai Eni melangsungkan pernikahan lagi. Sejak menikah kami tidak pernah lagi bertemu, karena Eni sekarang tidak lagi ada di kotaku.

Minggu, 17 Juni 2018

Selingkuh Dengan Pembantu HyperSeks

Selingkuh Dengan Pembantu HyperSeks 

PANENCERSEX |




Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku

TONTON DI SINI SELINGKUH DI DEPAN SUAMI 

Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya,

setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut,
“Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”

Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,
“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya,

“tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,
“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku,

“mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,
Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak,

begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak

untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain

Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,
“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar

Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur,

tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,
“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”

Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,
“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,


“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,

“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,
“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku

Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,
“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,


“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,
“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,


Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.


“kalian biadab, tidak tau terimakasih ****** kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,

“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,
“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,

“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,
“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,
“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku

Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,
“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,

“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,
“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,


“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,
“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang,
Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.




Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,


“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,
“Ha…ha… malu kenapa Bu? ****** aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,


Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,
“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,


“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,
Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,


“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku,


“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,


“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,

Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,


“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,


Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,


“ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,
“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,
“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,


“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,
“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,


“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,

Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,
“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,
“pak, saya mohon cepat lakukan,”


“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,

“tenang Bu, santai saja dulu?”
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,


“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,


pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi,


“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,

“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,
“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,
“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,

“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi
“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,
“bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,

“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,

“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,
“sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa,


“eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak,
Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,


“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan,
“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,


“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku,


“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,
“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,


Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,


“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,
“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,


Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,

********
Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,


“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,


“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,
“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,


“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,

“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,
“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas,

setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,

Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,film dewasa klik
“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,


“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,
“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,


“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,
“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku
“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”


Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,

“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,   film semi dewasa klik disini
“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,
“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.


“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,
“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,
“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,


“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,


Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,
“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,


“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”
“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,

Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,
“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,


“ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja

Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya.

Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,
“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,


“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,
Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,.



“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,
suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,  film semi dewasa klik disini
“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,
“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,
Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.

Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.


Para Pembaca PanenCersex Ingin Membaca cerita sebelum nya "Si Tante Penagih Hutang" Klik... Di Sini Ya Para Pembaca Cerita Sex..

Para Pembaca PanenCersex Ingin Mendaftar Dan Mencoba Keberuntungan Klik Di Sini Yah

 AGEN JUDI BOLA TERBAIK DAN TERPERCAYA