Bu Winda - Antara Birahi dan Rasa Hormat
| CERSEX |

BU WINDA
Namaku Arie, seorang pemuda biasa yang tahun ini genap berusia 22 tahun. Sehari-hari aku bekerja di sebuah hotel di kawasan Kuningan, Jakarta sebagai salah seorang waiter. Ini adalah tahun keduaku sebagai waiter, sementara sebelumnya aku pernah mengisi posisi sebagai bartender selama setahun di hotel yang sama.
Bagi mereka yang awam, mungkin akan terasa janggal melihat perubahan profesiku ini. Namun rotasi pekerjaan seperti ini sebenarnya sangat umum, bahkan wajib terjadi di dunia perhotelan, dimana setiap karyawan setidaknya pernah mencoba beberapa bagian di tempatnya bekerja. Sebagai lulusan D2 dari salah satu akademi perhotelan di Jakarta, aku cukup menikmati profesiku ini.
Gajinya memang tidak seberapa, namun tips customer dari service yang kuberikan sehari-hari, jika dikumpulkan cukup untuk membayar cicilan motorku setiap bulannya. Belum lagi koneksi dan pekerjaan sambilan yang dapat kulakukan setiap kali aku mendapatkan off dari tempat kerjaku. Yah, pokoknya lumayanlah untuk bisa hidup di Jakarta ini.
Bagi mereka yang awam, mungkin akan terasa janggal melihat perubahan profesiku ini. Namun rotasi pekerjaan seperti ini sebenarnya sangat umum, bahkan wajib terjadi di dunia perhotelan, dimana setiap karyawan setidaknya pernah mencoba beberapa bagian di tempatnya bekerja. Sebagai lulusan D2 dari salah satu akademi perhotelan di Jakarta, aku cukup menikmati profesiku ini.
Gajinya memang tidak seberapa, namun tips customer dari service yang kuberikan sehari-hari, jika dikumpulkan cukup untuk membayar cicilan motorku setiap bulannya. Belum lagi koneksi dan pekerjaan sambilan yang dapat kulakukan setiap kali aku mendapatkan off dari tempat kerjaku. Yah, pokoknya lumayanlah untuk bisa hidup di Jakarta ini.
Hal itu pulalah yang membuatku terburu-buru saat ini. Di sore hari, di hari Sabtu dimana biasanya orang duduk bersantai di rumah atau berjalan-jalan di mall, aku ada pekerjaan sampingan bersama beberapa rekanku.
Pekerjaan sampingan apa? Orang tuaku di kampung bisa bertenang hati. Pekerjaan sampinganku ini halal, sama sekali tidak ada hubungannya dengan penjualan narkoba ataupun prostitusi. Aku adalah seorang freelancer pada sebuah bar organizer yang dikelola oleh mantan atasan Yudi, rekan kerjaku di hotel. Keterampilanku bekerja membuat Yudi menawarkan pekerjaan sampingan padaku, tentunya ketika aku mendapatkan jatah off dari hotel.
Pekerjaan sampingan yang ditawarkan olehnya adalah sebagai salah satu kru dari sebuah bar organizer. Apa itu bar organizer (BO)? Sebenarnya agak sedikit mirip dengan event organizer, hanya saja bedanya bar organizer hanya mengatur bar dan liquor, berbeda dengan event organizer yang mengatur event secara keseluruhan.
Percaya atau tidak, banyak pesta dan event di Indonesia yang tidak asing dengan keberadaan bar organizer ini. Bar organizer tempatku bekerja bahkan pernah disewa hingga ke negeri Gajah Putih oleh salah seorang loyal customer kami. Sayangnya waktu itu aku tidak disertakan, hanya pemilik bar organizer saja dan beberapa orang lama kepercayaannya yang pergi ke sana.
Berbicara mengenai pemilik, bar organizer tempatku bekerja dikelola oleh Ibu Winda. Sebenarnya belum pantas dibilang ibu, karena kutaksir usianya baru berkisar antara 30 atau 31 tahun. Ibu Winda bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan minyak di kawasan Sudirman. Bar organizer ini sebenarnya merupakan usaha sampingannya, dikarenakan latar belakang dirinya yang ternyata juga pernah bekerja di bidang perhotelan selama beberapa tahun dulu.
Soal kepribadian, Ibu Winda bisa dibilang cukup perhatian dengan anak buahnya, apalagi mereka yang dianggapnya rajin dan cakap dalam bekerja. Setiap kali ada event, biasanya dia menelepon dan mengajak kami terlibat. Uang bayaran kami pun tidak pernah terlambat, bahkan pernah beberapa kali langsung dibayar penuh di muka. Profesionalisme Ibu Winda ini jugalah yang membuat kami menjadi hormat padanya dan selalu siap apabila dirinya membutuhkan kami.
Kesadaran diri dan rasa hormat kami padanya bukan mengada-ngada, bahkan pernah sekali waktu terjadi kami membatalkan seluruh janji kami untuk pekerjaan sampingan kami masing-masing di tempat lain, hanya karena Ibu Winda tiba-tiba menelepon kami dan menanyakan apakah kami ada waktu di akhir pekan untuk sebuah event salah seorang eksekutif muda.
Hal itu kami lakukan spontan dan tanpa perjanjian sebelumnya satu sama lain. Semua semata-mata karena kami merasa nyaman dan senang bekerja di bar organizer miliknya. Namun demikian, bukannya dia tidak bisa bersikap keras. Pernah ada dua orang kru diomeli habis-habisan olehnya. Tapi itu memang kesalahan mereka berdua, karena mereka diam-diam menggunakan uang yang dipercayakan kepada mereka untuk membeli beberapa minuman dan peralatan bar.
Begitu mengetahuinya, tentu saja Ibu Winda marah besar dan langsung memberhentikan mereka saat itu juga. Temanku Yudi yang kebetulan adalah orang mengajak mereka sampai merasa tidak enak dan meminta maaf kepada Ibu Winda, bahkan sempat berinisiatif membayar kerugian akibat kecurangan kedua orang tersebut meski harus sampai berutang.
Untungnya ketika itu meskipun dalam keadaan marah, Ibu Winda masih bisa bersikap bijak dan meminta Yudi untuk tidak melakukan hal tersebut. Ia hanya meminta supaya temanku itu lebih berhati-hati lagi dalam memilih orang yang akan diajak bekerja bersamanya. Hal itu tentu saja disambut Yudi dengan hembusan nafas lega.
Jika membicarakan soal fisik, sepertinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Ibu Winda memiliki tubuh yang langsing dan padat berisi, dengan kulit berwarna sawo matang. Wajahnya juga bisa dibilang cukup cantik dan menarik. Memang tidak cantik seperti model ataupun artis, tapi senyumnya manis dan jika dipadukan dengan proporsi tubuh dan karakternya, maka sebagai seorang lelaki aku akan memberikan nilai 9 padanya.
Sebagai lelaki normal kurasa wajar jika aku mengakui daya tarik seksual yang ada pada dirinya. Namun hanya sebatas itu saja, karena rasa hormat dan seganku padanya jauh mengalahkan naluri alamiah seorang lelaki. Itulah yang membedakan kita manusia dari binatang, moral dan etika sebagai makhluk yang berakal budi.
Pandanganku tentang Ibu Winda pastinya terkesan berlebihan jika orang lain mendengarnya. Wajar saja, karena meskipun sudah lebih dari setahun aku bekerja pada bar organizer miliknya, aku tidak mengetahui lebih banyak lagi soal dirinya selain daripada urusan pekerjaan. Hanya ada beberapa kebiasaan buruknya yang aku ketahui, salah satunya adalah bahwa dirinya sangat berantakan dan cenderung cuek.
Sebagai seorang wanita, kamar kos yang ditempatinya sangat berantakan. Jangan berharap melihat kamar wanita yang rapih dan penuh dengan pernak-pernik jika masuk ke dalam kamarnya. Yang akan kita temui adalah tumpukan baju yang berantakan di atas ranjang, tumpukan kardus peralatan bar atau beberapa botol minuman kosong di pojok kamarnya.
Kamar kos Ibu Winda memang cukup luas, kutaksir sekitar 4x5 meter dan belum termasuk kamar mandi. Tentunya jauh berbeda dari kamar kosku yang hanya berukuran 2x3 meter. Melihat kemalasan dirinya, maka tidak heran ketika mendengar ia membayar sedikit uang lebih kepada pembantu kosnya untuk membersihkan kamarnya setiap minggu. Tapi kurasa masih masuk akal mengingat dirinya tergolong wanita karir yang sibuk bekerja. Jangankan berbenah, akhir pekannya pun masih disibukkan dengan pekerjaan bar organizer miliknya, sehingga terkadang aku ragu apakah dirinya memiliki kehidupan sosial lainnya selain dari urusan pekerjaan.
Selain ketidakrapihannya, mungkin salah satu kebiasaan buruknya lagi adalah ke-sleborannya dalam berpakaian. Entah karena terlalu cuek atau menganggap kami sebagai anak buahnya yang sudah biasa datang, Ibu Winda beberapa kali berpakaian ala kadarnya ketika kami datang ke kosnya untuk menyiapkan barang-barang. Sempat suatu hari ketika aku datang bersama Yudi, ia membukakan pintu hanya dengan mengenakan daster motif bali berbelahan dada rendah, meski di dalamnya masih mengenakan bra.
Tentu saja aku sempat tertegun melihatnya, tapi segera bersikap biasa dan memalingkan wajahku ke tempat lain, berusaha berkonsentrasi pada pekerjaan. Yudi temanku sudah pasti lebih segan dariku, karena dirinya jelas sangat menghormati Ibu Winda sebagai orang yang seringkali menolongnya. Sekali waktu pernah juga aku tiba paling awal di kosnya, seperti biasa untuk menyiapkan barang-barang yang akan digunakan untuk acara di malam harinya.
Ketika aku mengetuk pintu, Ibu Winda membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk. Yang membuatku terperangah, ia hanya mengenakan hot pants dan sebuah kaus tanpa lengan yang agak ketat, namun aku bisa melihat puting payudaranya menyembul di balik kausnya. Tentu saja aku tergoda untuk melihat lebih jauh, tapi ketika itu akal sehatku masih menahanku.
Aku berusaha berkonsentrasi memindahkan perlengkapan acara keluar dari kamarnya. Meskipun demikian, Ibu Winda bukanlah tipe wanita nakal ataupun penggoda. Aku tahu dirinya begitu hanya karena kecuekannya terhadap kami, yang mungkin karena sudah dianggap cukup dekat. Bekerja di hotel selama beberapa tahun sudah cukup membuatku mampu membedakan mana wanita nakal dan mana wanita baik-baik, dan sudah jelas Ibu Winda tidak termasuk di dalam golongan pertama.
Dan hari ini pun aku kembali melakukan rutinitas yang sama, mengendarai motorku ke kos Ibu Winda untuk melakukan pekerjaan sampinganku. Baru 3 hari yang lalu Ibu Winda menelepon dan mengajakku untuk membantunya mengisi event hari ini. Tentu saja aku tidak sendirian, Yudi dan beberapa kru yang lain juga sedang dalam perjalanan menuju ke sana dari tempat tinggal mereka masing-masing.
Kos Ibu Winda memang selalu menjadi meeting point kami, sehingga kami bisa berangkat dari sana bersama-sama. Biasanya motor kami titipkan di kosnya, kemudian Ibu Winda dan seluruh kru akan naik mobilnya menuju tempat dimana acara dilangsungkan. Setelah hampir setengah jam berkendara, akhirnya aku pun tiba di kos Ibu Winda. Kulihat belum ada motor kru yang lain, sepertinya aku yang pertama kali sampai.
Seperti biasa kuparkirkan motorku di samping jemuran, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah kos sambil membawa helmku. Begitu sampai di depan kamarnya, kuketuk dua kali pintu kamar bernomor 6 itu. Sambil menunggu pintu dibukakan, rasa penasaran pun mendatangiku. "Apa yang akan dikenakan Ibu Winda kali ini," pikirku nakal. Tidak sampai 5 menit menunggu, pintu kamar pun dibukakan dan memupuskan harapan bodohku. Kulihat Ibu Winda mengenakan kaos dan celana jeans panjang, tampaknya ia sempat pergi keluar sebelumnya. "Eh udah nyampe Rie," katanya sambil mempersilahkan aku masuk. "Iya Bu, paling duluan nih kayaknya," ucapku sambil meletakkan helmku di atas meja seperti biasa.
"Mana yang mau disiapin dulu Bu?" tanyaku lagi sambil melepaskan jaketku dan meletakkannya di samping helm. "Itu dus-dus di pojok, dikeluarin aja dulu semuanya, susun di depan kamar. Jadi nanti yang lain dateng tinggal angkut ke mobil." kata Ibu Winda memberi instruksi. Tanpa menunggu lama aku langsung bergerak, memindahkan satu persatu dus-dus berisi perlengkapan bar ke depan kamar, sementara Ibu Winda duduk di ranjangnya dan menonton televisi.
Sekitar 15 menit memindahkan barang, Yudi dan beberapa kru lainnya pun akhirnya tiba, hanya berbeda sekitar 5 menit satu sama lain. Mereka pun segera membantuku memindahkan semua perlengkapan. Untuk menghemat waktu, Yudi meminta kunci mobil kepada Ibu Winda, sehingga kami bisa segera memasukkan barang-barang tersebut ke dalam mobil. Memakan waktu hampir setengah jam hingga akhirnya seluruh perlengkapan tersusun dengan rapi di dalam mobil Avanza miliknya.
Cukup lama mengingat banyaknya barang pecah belah yang harus disusun secara hati-hati. Setelah mengembalikan kunci mobil, kami pun berpamitan sebentar kepada Ibu Winda untuk pergi ke warung kopi terdekat, yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah kosnya. Kami memang selalu berkunjung ke warung tersebut apabila kami berkumpul di kos Ibu Winda, biasanya sekedar untuk merokok dan minum kopi sambil menunggu Ibu Winda mandi dan bersiap-siap untuk ke event yang kami kerjakan.
Ibu pemilik warung sudah cukup kenal dengan kami karena begitu seringnya kami berkumpul di sana. Seperti biasa aku duduk dan memesan secangkir kopi susu. Kami pun mulai membakar rokok dan mengobrol satu sama lain, umumnya membahas soal pekerjaan ataupun kabar teman-teman yang lain. Beberapa saat mengobrol, aku merogoh kantong celanaku, bermaksud menelepon adikku menanyakan kabarnya. Saat itulah aku menyadari bahwa handphoneku tidak berada di kantong.
Dengan panik aku segera berdiri dan mencari handphoneku ke kolong meja, sementara teman-temanku yang lain ikut membantuku mencari. Beberapa saat mencari, handphoneku tetap saja tidak ditemukan. "Di jaket ngga?" tanya Yudi mengingatkanku. Ah benar, mungkin ada di sana. Seingatku memang semenjak turun dari motor tadi aku sama sekali belum menyentuh handphoneku.
Aku segera menghisap rokokku beberapa kali, kemudian membuang dan menginjaknya dengan sepatuku. "Sebentar gua ambil dulu," ucapku pada teman-temanku sambil beranjak bangun dari kursi dan kembali ke rumah kos Ibu Winda.
Sesampainya di sana, aku pun mengetuk pintu kamar. Aku menunggu beberapa saat, namun tidak ada balasan dari dalam, hanya suara televisi yang terdengar dari depan kamar. "Bu? Ibu Winda?", kuketuk kembali pintu kamar, kali ini sebanyak dua kali ketukan dan sedikit lebih keras. Aku menunggu beberapa saat, namun pintu masih belum bisa dibukakan.
Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Perlahan-lahan kutarik daun pintu ke bawah dan kudorong pintu ke arah dalam. Aku mencondongkan kepalaku ke dalam kamar sambil memandang berkeliling, takut kalau Ibu Winda tersinggung karena aku masuk tanpa ijin. Namun yang kutemui hanyalah kamar kosong, sementara televisi masih menyala dengan suara cukup keras, menampilkan acara talkshow luar negeri.
Rasa bingung mulai menghampiriku, kemana Ibu Winda? Kamarnya tidak terkunci, jadi tidak mungkin dia pergi keluar. Pertanyaan itu segera terjawab begitu aku mendengar suara air keran mengalir dari dalam kamar mandi. Dan seketika itu juga rasa heranku berubah menjadi rasa penasaran bercampur tegang.
Ya, mengetahui Ibu Winda tengah mandi, mulai muncul niat cabulku. Perlahan-lahan aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara. Sebenernya tidak terlalu sulit, karena suara televisi yang cukup keras menyamarkan suara pintu yang tertutup. Sambil mengendap-ngendap, terlebih dahulu aku berjalan ke arah jaketku, untuk memeriksa apakah handphoneku ada di sana.
Sejenak mencari, kutemukan handphoneku di saku depan. Segera kuubah handphoneku ke mode silent dan kumasukkan ke dalam kantung celanaku. Setelah sejenak memantapkan diri, perlahan aku berjalan ke arah kamar mandi, tanpa sadar sambil menahan nafas supaya hembusan nafasku yang memburu tidak terdengar. Sekitar setengah meter dari pintu kamar mandi, aku berhenti sejenak untuk memantapkan niatku.
Bagaimanapun Ibu Winda adalah orang yang aku hormati. Meski aku tidak berniat buruk padanya, tetap saja ada perasaan bersalah dalam diriku akan usahaku untuk melihatnya tanpa busana ini. Setelah beberapa saat berpikir, niatku pun menjadi semakin mantap. "Kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Kebetulan dia lupa kunci pintu, berarti ini emang jalannya." pikirku mencari pembenaran. Kuteruskan perlahan langkahku, semakin dekat ke arah pintu kamar mandi dimana di dalamnya terdapat Ibu Winda sedang membersihkan tubuhnya. Kulihat memang pintu kamar mandi itu tertutup, namun tidak rapat. Pintu itu hanya menutup bersentuhan dengan kusen dan meninggalkan sedikit celah kecil, celah kecil yang cukup bagiku untuk melihat ke dalam apabila aku merapatkan wajahku ke dekatnya.
Perlahan-lahan aku mendekatkan kepalaku ke celah itu, takut apabila Ibu Winda di dalam menyadari kehadiranku dan dapat melihatku juga dari dalam. Sambil menahan nafas, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengintip. Kupejamkan sebelah mataku, supaya mata yang menempel ke celah itu dapat melihat dengan lebih jelas. Dan akhirnya, terlihatlah pemandangan indah itu. Dari celah kecil itu dapat kulihat tubuh indah Ibu Winda yang tengah dibasuh air.
Dirinya sedang sibuk menyirami tubuhnya dengan shower, sepertinya cukup fokus sehingga sama sekali tidak memandang ke arah pintu. Jantungku berdebar keras, seperti mimpi rasanya aku bisa melihat Ibu Winda tanpa busana. Tubuhnya yang langsing namun padat berisi membuat penisku di balik celanaku segera menegang. Payudaranya tidak terlalu besar, namun menggantung dengan ideal di tubuhnya, dengan puting berwarna coklat sedikit tua dan berdiameter tidak terlalu besar. Rambut-rambut halus di vaginanya tampak tercukur dengan rapi, tampak menempel dengan sempurna di tubuhnya karena basah disiram air.
Sesekali Ibu Winda membalik badannya membelakangiku untuk mengambil shampo atau sabun, memperlihatkan kedua bongkah pantatnya yang padat. Aku tidak tahu berapa lama aku menikmati pemandangan indah itu, hingga akhirnya Ibu Winda terlihat mematikan shower dan mulai bergerak mencari handuk. Aku pun tersadar bahwa aku menghabiskan waktu terlalu lama di sana. Segera aku melangkah menjauh dari pintu sambil terus menahan nafasku yang memburu.
Jantungku berdebar keras, berharap Ibu Winda mengeringkan tubuhnya di dalam kamar mandi dan tidak langsung keluar, memberikan waktu bagiku untuk keluar dari kamar itu. Dengan bergegas aku melangkah menuju pintu kamar, dengan sedikit terburu-buru membuka pintu kamar sambil berharap suara televisi menyamarkan suara pintu yang terbuka. Begitu keluar, aku segera menutup pintu dan langsung melangkah keluar dari rumah kos, kembali ke warung kopi tempat kru lainnya berada. Jantungku berdebar keras, berharap Ibu Winda tidak menyadari bahwa aku ada di dalam kamarnya tadi.
Aku berusaha bersikap biasa begitu sampai di warung kopi, sementara jantungku masih berdebar keras. "Kok lama Rie?" tanya salah satu kru kepadaku. "Iya, tadi bantuin Ibu Winda nurunin barang dulu," jawabku berbohong. Aku pun duduk dan kembali menyeruput kopi dari cangkirku, berusaha menenangkan diri. Perlahan bayangan tubuh Ibu Winda tanpa busana kembali merasuki pikiranku, membuat penisku kembali mengeras.
Aku memandang kru-kru lain, sambil membayangkan kemenanganku bisa melihat seluruh tubuh atasan kami tanpa sehelai benang pun. "Kalau aja mereka tahu, pasti pada iri." ucapku sambil tertawa dalam hati. Sekitar setengah jam kemudian, kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah kos. Langit sudah mulai gelap dan waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, sudah waktunya kami berangkat ke lokasi event.
Begitu sampai di rumah kos, kembali jantungku berdebar keras, takut jika Ibu Winda menyadari keberadaanku tadi. Tapi kekhawatiranku segera pupus begitu Ibu Winda bersikap seperti biasa kepada kami. "Amaannn..." ucapku lega dalam hati. Diam-diam aku mencuri pandang ke arah Ibu Winda yang tengah mengenakan dress pendek berwarna merah maroon untuk event ini. Dress itu bertipe kemben dan hanya menutupi tubuhnya hingga ke bagian dada, membiarkan pundaknya yang mulus terbuka. Pikiranku kembali menerawang, kembali membayangkan Ibu Winda tengah tanpa busana, membasuh tubuhnya di kamar mandi. Namun pikiran itu tidak bertahan lama, karena kami harus segera berangkat ke lokasi.
Kami pun segera masuk ke mobil, sementara 2 orang kru lainnya berboncengan mengendarai sepeda motor karena kapasitas mobil Ibu Winda tidak cukup menampung kami semua. Sesampainya di sana, seperti biasa kami pun disibukkan dengan aktivitas melayani tamu-tamu event, membuat kami hampir tidak ada waktu untuk beristirahat sama sekali.
Hampir satu bulan berlalu setelah aku mengintip Ibu Winda tengah mandi di kamar kosnya. Setiap saat bayangan tubuhnya tanpa busana selalu merasuki pikiranku. Entah sudah berapa kali sejak kejadian itu aku melakukan onani sambil membayangkan dirinya. Pernah satu kali, sekitar satu minggu setelah kejadian itu, aku menggunakan jasa wanita penghibur yang murah, yang dapat dengan mudah ditemui di kawasan Daan Mogot.
Tentu saja Ibu Winda menjadi fantasiku ketika sedang bersenggama dengan wanita penghibur itu. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan hasratku pada diri Ibu Winda. Aku malah semakin penasaran untuk dapat menikmati tubuhnya. Tapi tentu saja akal sehat masih bisa menahan nafsu liarku. Aku sadar, itu hanyalah fantasi saja. Terlalu banyak yang harus kukorbankan untuk mewujudkan hal itu. Usiaku masih muda, aku tidak mau menyia-nyiakan masa depanku demi nafsu semata.
Tidak tahan menahan nafsu gila ini sendirian, aku bermaksud berbagi dengan temanku Yudi. Suatu hari sepulang dari kantor, kami berdua duduk mengobrol di minimarket Seven Eleven di dekat hotel tempat kami bekerja. Setelah beberapa saat mengobrol, aku mulai membuka topik pembicaraan yang menyerempet Ibu Winda. "Belum ada panggilan lagi dari Ibu Winda, Yud?" tanyaku membuka pembicaraan. "Belum ada. Tapi waktu itu dia pernah ngomong kayaknya akhir bulan ini ada job lagi," jawabnya sambil menyalakan sebatang rokok. "Oohh...lumayan lah, lagi perlu banyak duit gua." ujarku lagi setengah tertawa. "Ya elah elo, kalo itu sih semua orang juga perlu, haha..." jawabnya lagi sambil tertawa.
Beberapa saat kami berdua tertawa, kemudian aku kembali membuka topik. "Eh Yud, Ibu Winda udah merit belum sih?" tanyaku dengan nada santai. "Wah ngga tau deh. Setau gua sih belum. Tapi pacar kayaknya ada, waktu itu gua pernah ketemu sekali abis event. Udah rada tua gitu orangnya." jawabnya lagi. "Wah, jangan-jangan Ibu Winda bini kedua lagi," ucapku lagi. "Ah ngga lah...Jangan suuzon lo, ngga baek." kata Yudi lagi sambil kembali menghisap rokoknya.
Aku tertawa kecil, kemudian melanjutkan lagi setelah beberapa saat. "Tapi Bu Winda oke juga ya Yud? Bodynya sexy tuh." kataku dengan nada datar. Yudi terdiam sejenak, kemudian meresponse perkataanku. "Iya...Tapi ya dia bos kita lah." ujarnya dengan nada rendah. "Yaaaa...iyalah dia bos kita. Maksud gua ya sebagai cowok aja gitu kasih penilaian." ujarku lagi. "Elo pernah liat dalemannya Yud?" tanyaku lagi perlahan, berhati-hati karena takut salah berbicara. "Ya kagaklah! Lo gila, aneh-aneh aja ngomongnya!" ujar Yudi spontan. "Yaaa maksud gua kali aja elo pernah ngga sengaja gitu. Namanya sering kerja sama dia kan..." jawabku lagi, merasa tidak enak karena sepertinya pertanyaanku kelewatan. "Ya ngga lah. Udah deh, lo ngga usah aneh-aneh.
Ibu Winda itu bos kita, atasan kita, orang yang ngasih kita job. Kita semua kudu hormatin dia, ngga pernah ada yang mikir aneh-aneh soal dia. Lagian dia udah jelas cewek baik-baik, elo juga udah liat sendiri kan?" ujar Yudi kembali, setengah menghardikku. Aku menjadi semakin tidak enak. "Iya Yud, gua cuma nanya aja. Ngga ada maksud apa-apa kok. Ya namanya ngomong biasa. Gua juga tau dia bos kita, gua juga hormat. Mana mungkin sih gua mikir aneh-aneh soal dia." jawabku membela diri. Dalam hati aku merasa menyesal sudah membuka topik ini dengan Yudi. Mungkin sebaiknya hal ini aku simpan sendiri saja.
Akhirnya kami mengobrol hal-hal lain seputar pekerjaan dan teman-teman kami. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Kami pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing. Pembicaraanku malam ini menjadi pelajaran buatku. Hal-hal seperti ini sangat sensitif dan sebaiknya tidak usah dibahas dengan orang lain. Aku mencamkan apa yang kudapatkan malam ini, dan berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
THE OPPORTUNITY
Baru seminggu setelah pembicaraanku dengan Yudi, permintaanku menjadi kenyataan. Yudi baru saja meneleponku, menginformasikan bahwa hari Sabtu besok ada job dari Ibu Winda. Mungkin ini jawaban dari yang di atas, karena kebetulan kondisi keuanganku sudah sangat menipis karena harus mengirimkan biaya obat untuk ibuku di kampung.
Seperti biasa, aku dan kru-kru lainnya berkumpul di kos Ibu Winda. Tidak seperti biasanya, setelah menyusun barang-barang di mobil kami pun langsung berangkat menuju lokasi event. Hal ini dikarenakan event kali ini merupakan event yang cukup besar dan menyangkut nama baik bar organizer milik Ibu Winda. Event ini diadakan oleh salah satu istri pengusaha ternama di Indonesia, yang juga dikenal sebagai salah satu sosialita ibukota.
Tentu saja apabila bar organizer milik Ibu Winda ini dapat memuaskan ekspektasinya, maka kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak event menjadi semakin besar bagi kami. Jumlah kru yang digunakan untuk event kali ini juga tidak seperti biasanya. Sekitar 15 orang kru direkrut untuk membantu Ibu Winda dalam event ini, padahal biasanya hanya menggunakan 5 atau 6 orang kru saja.
Pada event kali ini, kami bekerja dua kali lebih sibuk dari biasanya. Bahkan Ibu Winda yang biasanya hanya bekerja di balik meja bar dan sering bercengkrama dengan para tamu, kali ini tampak kerepotan. Dan setelah bekerja tanpa henti selama 4 jam, akhirnya kami bisa mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
Waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam, event pun sudah hampir selesai sehingga banyak tamu yang sudah pulang dan memberi kami kesempatan untuk sedikit bernafas lega. Sebagian perlengkapan kami tengah dibersihkan oleh para kru, sementara sebagian lagi masih digunakan oleh sisa tamu yang masih berada di lokasi event ini.
Sekitar setengah jam kemudian barulah pesta benar-benar berakhir. Kami segera membereskan sisa-sisa perlengkapan kami, kemudian memasukkannya ke dalam mobil. Saat itulah kami baru merasakan keletihan yang amat sangat. Bagaimana tidak, hampir 4 jam penuh kami nonstop melayani para tamu di pesta kali ini.
Namun kami juga merasa puas, karena Ibu Winda mengatakan sang penyelenggara event ini memuji profesionalisme kami. Kami pun meninggalkan tempat pesta sekitar jam 1 dini hari. Ketika pulang, Ibu Winda memintaku untuk menyetir mobilnya, karena kepalanya pusing akibat terlalu banyak minum di event tadi.
Memang sekalipun bekerja, Ibu Winda biasa ikut minum dan bersosialisasi dengan para tamu pesta. Sebenarnya tidak mengherankan karena koneksi Ibu Winda juga cukup luas, sehingga pasti ada saja beberapa orang yang mengenalnya di pesta dan mengajaknya minum.
Sepanjang perjalanan pulang Ibu Winda jarang berbicara, hanya sesekali ia menanggapi obrolan para kru. Sepintas kulihat wajahnya tampak merah akibat terlalu banyak minum. Tapi Ibu Winda tidak mabuk, mungkin dia hanya kurang fokus karena terlalu banyak alkohol di tubuhnya.
Begitu sampai di kos Ibu Winda, kami segera menurunkan perlengkapan dari mobil ke kamarnya. Meski lelah, kami tidak mau mengundur-ngundur hingga besok. Yang ada di kepala kami hanyalah bagaimana kami segera membereskan semuanya dan pulang untuk beristirahat. Waktu menunjukkan hampir jam 2 pagi ketika selesai menurunkan semuanya.
Sebelum pulang, Ibu Winda mengumpulkan kami semua dan langsung membagi-bagikan amplop berisi bayaran kami masing-masing untuk event kali ini. Bayaran kali ini cukup lumayan, Ibu Winda memberi bayaran lebih karena event kali ini lebih besar dan sibuk dari biasanya. Setelah menerima bayaran, kami pun berpamitan untuk pulang beristirahat.
Namun sebelum pulang, aku minta izin pada Ibu Winda untuk meminjam toiletnya. Sebenarnya aku malu meminjam toilet pada Ibu Winda, tapi bagaimana lagi, sakit perutku sudah tidak bisa ditahan lagi. Ibu Winda juga maklum dengan keadaanku dan mengizinkanku untuk menggunakan toiletnya.
Setelah beberapa saat buang air, akhirnya sakit di perutku reda. Aku pun segera keluar dari toilet bermaksud untuk pulang. Tapi sial bagiku, baru saja aku keluar dari toilet, aku mendengar suara berisik dari luar. Ternyata ketika aku berada di dalam toilet, hujan turun dengan deras. "Wah, sial...Baru mau pulang." ucapku setengah kesal. Ibu Winda menoleh dan tersenyum melihatku menggerutu. "Ya udah, kamu nunggu dulu aja sampai reda." ujar Ibu Winda padaku. "Iya Bu. Saya tunggu di depan aja.
Nanti kalau reda baru saya jalan." jawabku padanya. "Lho, ngapain kamu tunggu di luar? Di sini aja sambil nonton." balas Ibu Winda. "Ah ngga usah Bu. Ibu mau istirahat, saya pulang aja, takut ganggu nanti." balasku sopan, merasa tidak enak. "Gapapa, kamu nonton aja. Nanti kalau kamu mau pulang dan saya ketiduran, kamu bangunin saya." balas Ibu Winda lagi dengan nada setengah mengantuk. Tampaknya dirinya sudah lelah dan mengantuk. "I-iya Bu. Semoga ngga lama ujannya," balasku tidak enak.
Aku terdiam seribu bahasa karena merasa tidak enak mengganggu waktu istirahat Ibu Winda. Mataku menatap ke televisi, berusaha konsentrasi menonton. Beberapa saat kemudian, Ibu Winda pun beranjak bangun dari ranjangnya, kemudian berjalan ke arah lemari pakaian. Dikeluarkannya setumpuk pakaian, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sekitar 5 menit kemudian, Ibu Winda pun keluar. Tampak dirinya hanya mengenakan kaus lengan buntung dan celana pendek santai. Gaun yang sebelumnya digunakan untuk event dilipat dan diletakkan di depan lemari. Ia pun langsung naik ke atas ranjang dan menutupi separuh tubuhnya dengan bedcover. "Kamu nonton aja Ri. Kalau mau minum itu ambil aja ada air di dalam kulkas," ujar Ibu Winda padaku. "Iya Bu," balasku sopan.
Ibu Winda pun asik duduk di ranjangnya sambil menonton televisi. Masih merasa canggung, aku kembali menonton televisi. Tanpa sadar aku pun keasikan menonton acara National Geographic yang tengah membahas sejarah perang di kota tua di Eropa. Entah berapa lama aku keasikan menonton, hingga akhirnya aku pun sadar bahwa hujan belum juga reda. "Wah lama juga. Ini sih bakalan lama." gumamku pelan sambil melihat jam di dinding yang menunjukkan sudah jam 3 lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, lagipula sesampainya di kos aku bisa segera mandi dan tidur. Aku pun menoleh ke arah Ibu Winda bermaksud untuk berpamitan. Aku sedikit terkejut karena ternyata Ibu Winda sudah tertidur pulas. "Ini gimana pamitnya," pikirku dalam hati.
Perlahan aku beranjak dari kursi, mendekati ranjang dimana Ibu Winda terbaring. Ketika sudah berada di dekatnya, kulihat Ibu Winda sudah tertidur pulas. Pantas saja dari tadi tidak terdengar suara, ternyata Ibu Winda sudah kelelahan sehingga lekas terlelap. Aku terdiam menatapi Ibu Winda yang tengah tertidur, meski tampak lelah namun tetap menarik untuk dipandang. Bedcover menutupi tubuhnya dari pinggang hingga kaki, hanya saja mulai dari setengah betis hingga ke telapak kaki tampak tidak tertutupi.
Setelah beberapa saat terpana memandang Ibu Winda, aku terhenyak kaget. Aku baru menyadari, di balik kaus tanpa lengan yang dikenakannya, aku sama sekali tidak melihat adanya tali bra. Aku menelan ludah, pikiranku mulai liar. Apakah aku harus bersikap gentleman, ataukah aku harus mengambil kesempatan ini? Aku terdiam beberapa saat, mataku terus memandangi Ibu Winda yang tengah tertidur. "Main aman dulu," pikirku beberapa saat kemudian. "Bu...Ibu Winda..." ujarku pelan, memastikan bahwa ia memang sudah terlelap. Tidak ada respon dari Ibu Winda, tampaknya dirinya memang sudah tertidur.
Nafasnya juga tampak teratur, membuatku yakin bahwa dirinya sudah pulas. Merasa cukup aman, aku pun memberanikan diri untuk bertindak lebih jauh. Perlahan-lahan kusibakkan bedcover yang menutupi bagian bawah tubuhnya, membuat seluruh tubuhnya dapat terlihat dengan jelas. Nafasku mulai memburu, mataku terus memandang payudara Ibu Winda yang masih tertutup kaus berwarna hijau lumut.
Jika diperhatikan, celana pendek ala Bali yang dikenakannya juga tampak agak tipis sehingga samar-samar aku dapat melihat celana dalam berwarna merah muda di baliknya. Aku semakin berani, tanganku mulai bergerak ke bagian bawah kaus tanpa lengan yang dikenakannya. Jantungku berdebar kencang, takut apabila Ibu Winda terbangun dari tidurnya. Setelah memantapkan tekad, akhirnya aku memberanikan diri untuk perlahan-lahan mengangkat kausnya ke atas, berusaha membuat rongga dan melihat payudaranya dari bawah.
Aku berusaha mengontrol tanganku yang agak gemetar. Rasa takut, tegang dan terangsang bercampur aduk pada diriku. Tapi tampaknya Ibu Winda terlalu lelap untuk menyadari kenekatanku, mungkin event kali ini benar-benar membuatnya lelah. Akhirnya aku memberanikan diri mendekatkan kepalaku ke perutnya, berusaha melihat dari bawah payudaranya yang masih terbungkus kaus. Apa yang kulihat seketika membuat jantungku seakan berhenti berdetak.
Dari bawah, aku bisa melihat kedua gundukan kenyal yang tampak menggoda. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat pas dan seakan mengundangku untuk menjamahnya. Kedua putingnya nampak jelas dari bawah, berwarna coklat tua dan tampak begitu indah. Penis di dalam celanaku semakin mengeras, memberontak seakan meminta untuk dipuaskan.
Perlahan-lahan kukembalikan kaus ke posisi semula, sementara pikiran-pikiran liar berkecamuk di dalam kepalaku. Kembali aku terdiam, berbagai emosi bergejolak di dalam diriku. Antara pulang atau nekat meneruskan nafsu liarku, mana yang harus kupilih? Jika aku pulang, aku akan menyesal dan terus diteror akan nafsuku pada Ibu Winda. Jika aku nekat meneruskan, maka penyesalan yang lebih besar akan datang dan aku akan menjadi seorang pemerkosa. Kepalaku seakan ingin pecah akibat bentrokan kedua hal yang saling bertentangan ini.
Beberapa saat kemudian, akhirnya aku mengambil keputusan final. Aku membiarkan nafsu liar memenangkan pergolakan batin yang kualami. Apapun resikonya, kali ini aku harus bisa menikmati tubuh Ibu Winda. Hujan masih terdengar deras di luar, membuatku yakin kalaupun Ibu Winda nanti terbangun dan berteriak, suaranya akan tersamarkan oleh suara hujan. Aku mulai melepaskan pakaian yang kukenakan satu persatu, tentu saja dengan perlahan-lahan. Hanya dalam hitungan menit, aku sudah berdiri di samping Ibu Winda, telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benang pun. Dengan jantung berdebar, aku nekat memulai aksiku.
Dengan hati-hati aku mulai naik ke atas ranjang, berusaha supaya Ibu Winda tidak terbangun. Begitu posisiku sudah tepat, aku mulai menyerang Ibu Winda. Aku menyadari akan lebih baik bagiku jika Ibu Winda tidak terbangun dulu oleh ulahku, setidaknya dalam keadaan masih berpakaian lengkap. Karena jika dirinya sudah tersadar akan sulit bagiku untuk melucuti pakaiannya.
Aku mulai memegang bagian bawahnya, kemudian secara perlahan aku berusaha menyingkapkannya ke atas, membuat kedua payudaranya terpampang jelas. Kausnya baru tersingkap sampai perut ketika Ibu Winda tampak mendengus pelan, membuatku berhenti sejenak. Jantungku kembali berdetak kencang, takut apabila Ibu Winda tersadar lebih cepat dari perkiraanku.
Aku menunggu beberapa saat, tapi tidak ada reaksi lebih lanjut dari Ibu Winda. Keberanianku pun kembali, aku kembali melanjutkan aksiku untuk menyingkap kaus yang dikenakannya lebih tinggi lagi. Setelah beberapa saat melanjutkan aksiku dengan hati-hati, akhirnya aku berhasil menyingkap kaus yang dikenakannya hingga tepat di bawah lehernya, membuat kedua payudaranya terpampang dengan bebas di hadapanku.
Sepertinya Ibu Winda benar-benar kelelahan sehingga belum menyadari juga apa yang telah kulakukan pada dirinya. Kedua payudaranya yang proporsional tampak terpampang jelas di hadapanku, mengundangku untuk meremas dan menghisapnya.
Aku menghela nafas perlahan, penisku sudah menegang melihat pemandangan di hadapanku. Aku tahu kedua bongkahan kenyal itu berukuran 34B, karena aku pernah melihat bra Ibu Winda yang tergantung di balik pintu kamar mandi ketika beberapa bulan lalu aku meminjam kamar mandinya untuk buang air kecil. Dan membayangkan apa yang akan kulakukan beberapa saat lagi dengan kedua bongkahan itu membuat penisku semakin perkasa.
Setelah kembali memantapkan diri, aku mulai melancarkan serangan berikutnya. Dengan perlahan dan lembut aku mulai meraba kedua payudara Ibu Winda. Ibu jari dan telunjuk kedua tanganku perlahan menyentuh kedua putingnya dengan lembut, berusaha untuk tetap tidak membuatnya terbangun.
Tidak puas dengan apa yang kulakukan, aku mulai nekat mengarahkan wajahku ke payudara sebelah kanan. Kemudian dengan lembut, aku menjulurkan lidahku, memainkan ujung puting payudaranya dengan lembut. Rasa puas dan merinding melandaku, penisku terasa sangat tegang seakan seluruh aliran darahku hanya mengalir ke sana. Tangan kananku pun tidak tinggal diam, dengan lembut aku mulai meremas payudara sebelah kiri.
Beberapa saat kemudian, aku dengar Ibu Winda mendengus, tampaknya ia mulai tersadar dari tidurnya akibat perbuatanku. Benar saja, tidak lama kemudian Ibu Winda terbangun. Entah apa yang membuatnya terjaga dari tidurnya, apakah putingnya yang asik kumainkan dengan lidahku, ataukah tangan kananku yang terus asik meremas payudara sebelahnya.
Awalnya Ibu Winda tidak begitu menyadari apa yang terjadi, namun sepersekian detik kemudian ia melonjak kaget dan panik. "Eh! Arie!" pekiknya terkejut, menyadari bahwa kedua payudaranya sedang kunikmati. "Rie! Ngapain kamu! Stop!" kembali Ibu Winda menjerit sambil berusaha menghentikan tindakanku. Tentu saja aku tidak diam saja, dengan sigap aku memegang kedua tangannya, berusaha mengendalikan perlawanannya.
Perlawanan Ibu Winda tidaklah terlalu berarti bagiku, mungkin karena dirinya baru saja terbangun. Ditambah efek alkohol di dalam tubuhnya akibat terlalu banyak minum tadi, membuatku dengan mudah menguasai dirinya. Sudah kepalang basah, aku tidak ragu-ragu lagi dalam melancarkan seranganku. Aku langsung menghisap payudaranya dengan penuh nafsu, sambil sesekali memainkan lidahku dan menggigit perlahan putingnya. Ibu Winda terus melawan sambil berteriak, namun suara teriakan lemah yang keluar dari mulutnya tidak bisa mengalahkan derasnya suara hujan di luar.
"Rie!!! Stop! Stopp!!! Ariiee!!!" teriaknya panik. Jantungku berdebar semakin kencang, rasa nafsu dan takut bercampur aduk di dadaku. Karena sudah kepalang basah, kuteruskan aksi nekatku. Aku segera bangkit dan duduk di atas perut Ibu Winda, berusaha mengunci gerakannya. Kedua tanganku dengan liar meremas-remas payudaranya, sambil sesekali menepis kedua tangan Ibu Winda yang bergerak liar, berusaha menghentikan aksi tidak senonohku padanya. Meskipun perlawanannya tidak berarti, tapi diriku menjadi semakin tidak sabar.
Aku pun menjadi gelap mata. Plakk!!! Sebuah tamparan pun kulayangkan pada wajah Ibu Winda, membuat dirinya terdiam sesaat karena shock. Kulihat matanya sedikit memerah dan air matanya mulai mengalir, entah akibat rasa sakit di pipinya ataukah karena dirinya sadar aku hendak menikmati tubuhnya. Kuambil kesempatan sesaat ini untuk melancarkan aksiku lebih jauh.
Dengan paksa kurenggut kaus tanpa lengan yang dikenakannya, kemudian dengan sekuat tenaga kutarik sehingga kaus itu robek hingga setengahnya. Ibu Winda menyadari apa yang akan kulakukan, kedua tangannya pun bergerak liar berusaha mencegahku. "Ri! Jangan Ri! Jangaannn!!!" teriaknya sedikit parau, terdengar sedikit isak tangis tertahan di balik teriakannya. Ibu Winda memang wanita yang sangat tegar, bahkan di kondisi sulit seperti ini pun dirinya enggan memperlihatkan kelemahannya.
Tanpa mempedulikan teriakannya kutarik kembali kaus yang dikenakannya dengan kasar, sehingga kini kaus itu robek secara vertikal sepenuhnya, membuatku lebih mudah untuk menikmati kedua payudaranya yang montok. Ibu Winda tampak semakin panik, sementara diriku justru semakin agresif menyerang dirinya. Tanpa membuang waktu aku segera menunduk dan menempelkan wajahku ke payudaranya.
Dengan penuh nafsu kuhisap kedua payudaranya bergantian kiri dan kanan. Kumainkan putingnya dengan lidahku sambil sesekali kugigit pelan ujung putingnya. "Ri! Udah! Stoppp!!! Ampun! Jangaannn!" pekiknya parau, memintaku untuk menghentikan perbuatanku. Mendengar jeritannya, aku menjadi semakin bersemangat. Mulutku bergerak liar menikmati payudaranya, sesekali bergerak ke arah leher dan melumat tengkuknya dengan penuh nafsu.
Nafsu yang semakin tidak terbendung membuatku semakin kalap. Dengan tidak sabar aku pun segera berusaha menanggalkan kaus dan celana yang kukenakan. Ibu Winda berusaha mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri dariku, namun karena berada di atas tubuhnya, sudah jelas posisiku lebih menguntungkan. Setiap kali dirinya berusaha melepaskan diri, sergapanku kembali memaksanya untuk kembali terbaring.
Tidak lama waktu yang kubutuhkan untuk menanggalkan seluruh pakaianku. Dalam sekejap, aku hanya tinggal mengenakan celana dalam saja. Sengaja tidak kutanggalkan dulu celana dalam yang kukenakan, karena aku ingin terlebih dahulu melucuti seluruh benang yang menutupi tubuh bosku ini. Kulihat wajah Ibu Winda, tampak pucat dan panik melihatku sudah tinggal mengenakan celana dalam saja. Tanpa membuang waktu lebih lama, aku kembali melancarkan seranganku.
Kali ini sasaranku adalah celana pendek yang dikenakannya, sebuah celana pendek ala pantai yang menutupi tidak sampai setengah pahanya. Aku segera beranjak pindah dari posisiku semula, dari atas perut Ibu Winda kini turun ke kedua kakinya, berusaha menahan kedua kakinya dengan bobot tubuhku. Menyadari apa yang hendak kulakukan, Ibu Winda berusaha meronta melepaskan diri. Namun efek alkohol dan kelelahan akibat acara tadi tampaknya sudah menguras seluruh tenaganya. Perlawanan yang ia berikan sama sekali tidak berarti bagiku. "Riee! Jangan! Jangaannn!!" jeritnya berusaha menghentikanku, panik karena kedua tanganku sudah menggenggam bagian pinggang dari celana pendek yang dikenakannya.
Tanpa mempedulikan jeritannya, aku melancarkan aksiku. Aku segera menarik turun celana pendek ala pantai yang dikenakannya itu. Usaha pertama tidak begitu sukses, karena Ibu Winda terus berusaha melawan, celana itu hanya turun hingga ke setengah paha. Namun di usaha kedua aku berhasil dengan gemilang. Celana pendek itu turun hingga ke lututnya, memperlihatkan celana dalam thong berwarna hijau tosca yang dikenakannya. "Jangaannn!!" jerit Ibu Winda parau dan tertahan. Rasa malu, marah sekaligus takut terbayang jelas di wajahnya. Pemandangan di hadapanku sungguh menggiurkan. Melihat dirinya hanya mengenakan celana dalam, dengan payudaranya yang sangat menggoda, membuat penisku semakin mengeras di balik celana dalamku.
Segera kurebahkan diriku di atas tubuhnya, mulutku kembali menghisap payudaranya dengan liar, sementara kedua tanganku sibuk menghentikan perlawanannya. Sambil terus berusaha menahan supaya dirinya tidak melarikan diri, tangan kananku bergerak ke arah selangkangannya, memainkan vagina Ibu Winda dari luar celana dalamnya. "Jangaannn!! Stop Ri! Jangan!" pekiknya panik. "Sshh...udah diem aja Bu. Saya akan puasin Ibu..." desisku pelan penuh nafsu. Gerakan kaki Ibu Winda semakin liar, berusaha melepaskan diri dariku.
Namun sia-sia belaka, kedua kakinya kutahan dengan kedua kakiku, sambil kudorong ke arah berlawanan sehingga posisinya agak mengangkang, membuat tanganku mudah mengelus-elus vaginanya. Kulihat wajah Ibu Winda tampak pucat, kedua matanya merah dan nafasnya terengah-engah karena lelah melawanku. Dan ketika gerakannya mulai lemah, kususupkan tanganku ke dalam celana dalamnya, langsung dari bawah pusar menuju liang kenikmatan itu. "Jangaann!! Stop! Stopp!!" pekiknya menyadari gerakanku. "Ssshh...." desisku pelan, jantungku pun berdebar semakin kencang. Ujung-ujung jemariku merasakan rambut-rambut halus yang menutupi vaginanya. Begitu jariku tepat berada di depan lubang kenikmatannya, kuusap-usap lembut vaginanya, berusaha memberikan rangsangan pada Ibu Winda yang selama ini sangat menggoda pikiranku.
"Enggh....Jangann!!! Stop Ri! Please! Stoopp!!" teriaknya parau, memintaku menghentikan serangan ini. Tidak peduli, jemariku terus menyerang vaginanya, sementara mulutku sibuk memanjakan kedua payudaranya. Tubuh Ibu Winda pun terus menggeliat, mungkin merasa geli akibat rangsangan di vaginanya, sekaligus berusaha melepaskan diri dariku.
Setelah beberapa saat, kurasakan gerakan Ibu Winda sedikit berkurang. Mungkin dirinya mulai merasa lelah berusaha melepaskan diri dari seranganku. Kembali aku mengambil kesempatan ini untuk melangkah lebih jauh. Dengan sigap aku bangkit dari posisiku, bertumpu pada kedua lututku. Dengan secepat kilat kutarik celana dalam yang dikenakan Ibu Winda sehingga turun hingga ke kedua lututnya, memperlihatkan vaginanya yang ditutupi rambut-rambut halus tipis.
Karena gerakanku terlalu cepat, Ibu Winda sama sekali tidak sempat berupaya menghentikan aksiku. "Ahh! Jangan!" pekiknya terlambat. Kembali kurebahkan tubuhku di atas tubuhnya, berusaha mengekangnya supaya tidak melawan. Tentu saja Ibu Winda menggeliat berusaha melawan, tapi gerakanku lebih cepat. Kembali kedua tangannya kupegang, sementara kuposisikan tubuhku di antara kedua kakinya sehingga ia tidak dapat merapatkan selangkangannya.
Kini posisiku kembali lebih leluasa untuk menyerangnya. Kembali kulayangkan jilatan-jilatan penuh nafsu ke arah leher dan payudara Ibu Winda, membuatnya menggeliat menolak kecupan-kecupan dari mulutku. Kedua tanganku pun bergerak lebih aktif.
Kulepaskan kedua tangannya karena aku yakin Ibu Winda akan sulit melepaskan diri dengan posisi seperti ini. Kuarahkan kembali tangan kananku ke arah vaginanya, bermaksud memberi stimulasi sehingga vaginanya menjadi basah. Tentu saja Ibu Winda tidak tinggal diam. Dirinya terus meronta berusaha melepaskan diri. "Rie! Jangan Rie! Stop! Jangannn!" jeritnya memintaku berhenti.
Sama sekali tidak terlintas di pikiranku untuk berhenti. Aku malah semakin bernafsu menikmati tubuh Ibu Winda. Segala jeritan dan permintaannya untuk berhenti sama sekali tidak kugubris. Kupercepat gesekan tanganku di vaginanya, sama sekali tidak peduli lagi apabila suara jeritan Ibu Winda terdengar hingga keluar kamar. "Ennghhh!! Stoopp!! Rie! Ampuunn!!" pekiknya memintaku berhenti. Namun malam ini tampaknya adalah malam keberuntunganku. Hujan yang mengguyur Jakarta malam ini tidak kunjung berhenti.
Derasnya suara hujan di luar menutupi sepenuhnya suara jeritan Ibu Winda, sehingga aku bisa melakukan aksiku dengan leluasa. Setelah beberapa saat kurasakan vagina Ibu Winda mulai sedikit basah. Wajar saja, karena seringkali fisik tidak bisa melawan rangsangan meskipun akal sehat menolak. Kulihat ini sebagai kesempatan emas karena aku sendiri sudah mulai tidak mampu lagi menahan nafsuku.
Lagipula semakin lama akan semakin besar kemungkinan hujan berhenti, sehingga semakin besar resikoku jika suara jeritan Ibu Winda terdengar keluar. Dengan segera kuposisikan pinggulku sehingga penisku tepat di depan lubang kenikmatan bosku ini, kemudian dengan perlahan mulai kutempelkan penisku yang sudah mengeras pada bibir vaginanya. "Jangaannn!! Riee jangannn!!! Ampun! Ga mauu!" pekik Ibu Winda panik, menyadari aku hendak memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Kedua tangannya bergerak liar berusaha mendorong tubuhku menjauh, sementara kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, berusaha menekankan penolakannya.
Entah apa yang ada di kepalaku. Bukannya segera memasukkan penisku yang sudah menegang ke dalam vaginanya, aku malah bermaksud mempermainkan Ibu Winda lebih jauh. Kugerakkan pinggulku maju dan mundur, menggesek-gesekkan penisku di bibir vaginanya, membuat dirinya semakin panik. "Rie, jangan Rie! Please jangan! Ga mau Rie...jangan...jangan!" desisnya setengah memohon agar aku mengurungkan niatku.
Aku tersenyum licik, kuteruskan menggesek-gesekkan penisku di bibir vaginanya. "Udah Bu...Nikmatin aja..." desisku pelan tanpa menghentikan gerakanku. "Nggaa...Jangan Rie! Jangan...Saya ngga akan bilang siapa-siapa. Saya janji..." ucapnya berusaha membuatku menghentikanku bertindak lebih jauh. "Rie, saya tahu kamu cuma khilaf. Udah lepasin saya, saya maafin kamu. Udah stop Rie...Saya ngga akan bilang siapa siapa..." kembali Ibu Winda berkata lirih, berusaha meyakinkanku. Kulihat wajahnya, tampak pucat dan mengharap aku mendengarkan kata-katanya.
Matanya merah dan masih tampak air mata menggantung di sana. "Sshh....Udah Bu...Ibu diem aja...Saya udah kepingin..." desisku pelan sambil terus bergerak maju mundur. "Ngga Rie! Please! Jangan dimasukin..." lirihnya kembali memintaku berhenti. Kutatap kembali wajahnya, tampak Ibu Winda benar-benar berharap aku melepaskannya. "Udah Bu...Ibu diem aja...Saya gesek-gesek aja..." ucapku memberikan secercah harapan padanya.
Mendengar ucapanku, tampak Ibu Winda sedikit lebih lega, meskipun rasa malu dan marah masih tersirat di wajahnya. Aku tertawa dalam hati. Tentu saja aku berbohong. Aku sama sekali tidak bermaksud hanya menggesek-gesekkan penisku di luar vaginanya. Ucapanku hanyalah untuk mempermainkan dirinya dan memberikan harapan palsu.
Selama beberapa waktu aku terus menggesek-gesekkan penisku di bibir vagina Ibu Winda. Kurasakan vaginanya mulai sedikit lengket, entah karena cairan kewanitaannya ataukah memang penisku juga sudah mulai mengeluarkan pelumasnya. Kulihat Ibu Winda tampak pasrah melihat ulahku. Sesekali dirinya memejamkan mata, tampak malu dan enggan melihat wajahku.
Nafasnya terdengar sedikit memburu, entah karena lelah ataukah karena tanpa sadar dirinya juga sudah terbawa oleh keadaan ini. Sekitar 10 menit berlalu, kulihat tampaknya Ibu Winda mulai sedikit lengah. Di tengah kepasrahannya, ia memejamkan mata, tampaknya mulai yakin bahwa aku hanya tidak akan melakukan penetrasi ke dalam vaginanya. "Kesempatan!" ujarku dalam hati. Gesekan penisku di bibir vaginanya kini berubah menjadi mengarah ke dalam liang vaginanya.
Hanya dalam sedikit gerakan saja, kepala penisku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ibu Winda pun tersentak membuka matanya, menyadari bahwa penisku kini mulai masuk ke dalam vaginanya. "Arie! Jangann! Stopp!!" pekiknya panik. "Jangan Rie! Jangan dimasukin! Jangann!! Nggaa! Ngga mauuuu!!!" teriaknya memintaku berhenti, wajahnya tampak pucat pasi. Kugerakkan pinggulku ke depan, membuat penisku masuk lebih dalam.
Dalam beberapa detik saja, seluruh penisku kini sudah masuk ke dalam vaginanya. "Arrghh!!! Jaangaannn....!!!" pekiknya terisak, menyadari bahwa aku telah berhasil mengambil kehormatannya. Selama beberapa saat aku diam tidak bergerak, merasakan dinding vaginanya menjepit batang penisku yang menegang di dalamnya.
Kuarahkan pandangannku ke selangkangannya, tidak ada noda darah keluar dari vaginanya. Suatu hal yang wajar di jaman sekarang ini. Hampir tidak mungkin rasanya menemukan wanita yang masih perawan, apalagi wanita berpikiran moderat dan seatraktif Ibu Winda. Hanya aja aku tidak tahu seberapa sering dirinya melakukan hubungan seksual, rasa penasaran itu sedikit menggelitikku.
"Ah, bodo amat!" ujarku dalam hati, mengesampingkan rasa penasaran akan pengalaman bercinta Ibu Winda. Aku kembali fokus pada dirinya yang kini berada di hadapanku. Kulihat air mata mengalir dari matanya. Wajahnya tampak memerah, rasa marah, malu, dan sedih tampak bercampur aduk di sana. Tanpa mempedulikan apa yang dirasakannya, aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur secara perlahan, memompa penisku di dalam vaginanya.
"Ngghh!" pekik Ibu Winda tertahan, ketika batang penisku mulai bergerak dan bergesekan dengan dinding rahimnya. "Anghh...Rie! Jangan! Stoopp....!" lirih Ibu Winda memintaku berhenti. "Sshh...Udah Ibu diem! Nikmatin aja kontol saya Bu!" selorohku sembarangan sambil tertawa dalam hati. Ibu Winda terpekik kecil, wajahnya tampak marah karena ucapanku yang kampungan. Namun aku tidak peduli, semakin dirinya terhina maka semakin besar kemenangan yang kurasakan.
Kupercepat gerakan pinggulku, cairan pelumas dari alat vital kami berdua membuat penisku semakin lancar keluar masuk vaginanya. "Ouhh...Nghhh...Sshh...Ri-riee...Sss...Stopp....Nggh..." jerit Ibu Winda terputus-putus akibat gempuran penisku pada vaginanya. "Oohh...Sshh...Enaakkk..." desisku keenakan, menikmati detik demi detik penisku bergesekan dengan dinding rahimnya.
Kuremas-remas payudara Ibu Winda dengan penuh nafsu, sementara Ibu Winda tampaknya sudah pasrah tanpa perlawanan. "Ngghh...Ooohh...Ahh....Nghh.. ." lenguh Ibu Winda tidak berdaya. Ketika kutatap wajahnya, Ibu Winda langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tampaknya ia malu karena tidak sadar mengeluarkan desahan desahan yang hanya membuatku semakin bernafsu. Kini ia terdiam, tampak berusaha tegar dan tidak membiarkan menikmati kemenanganku lebih jauh lagi.
Meskipun demikian ekspresi wajahnya membuatku sangat bergairah. Rasa takut, sedih, marah bercampur dengan rasa nikmat akibat hujaman penisku di vaginanya, tampak tergambar di wajahnya. "Engghh....Ooohh!" jeritan Ibu Winda tampak terlepas keluar ketika tidak sengaja penisku mendorong terlalu dalam. Kuatur kembali gerakan pinggulku, aku tidak mau membuat Ibu Winda kesakitan dan tidak menikmati hal ini. Aku ingin Ibu Winda diam-diam menikmati pemerkosaan ini, meskipun harga diri dan mulutnya menolak.
Selama beberapa saat kupertahankan kecepatan ayunan pinggulku, membuat penisku keluar masuk vaginanya dengan konstan. "Nghh...Aahh...Sshh....Ooohhh. ..", perlahan-lahan lenguhan Ibu Winda kembali terdengar, sepertinya ia tidak sadar desahan-desahan itu kembali keluar dari mulutnya. Kurasakan dinding vaginanya mulai menegang, menjepit batang penisku dengan erat. "Oouhh! Ngghh....Ahh...Nggh..." desah Ibu Winda semakin tidak terkendali.
Aku pun menjadi semakin bersemangat. Tampaknya Ibu Winda sedang menuju orgasme, meskipun aku sendiri ragu hal itu bisa terjadi ketika seseorang tengah diperkosa. Kupertahankan gerakanku memompa vaginanya. Pinggulku bergerak maju mundur dengan kecepatan tetap, berusaha menjaga supaya Ibu Winda tidak kehilangan moodnya. "Engghh....Hhh...Shhh....Aahhh ..." Ibu Winda terus mendesah tidak terkendali, sementara penisku terus bergerak keluar masuk vaginanya.
Kurang lebih 5 menit kemudian, kurasakan tubuh Ibu Winda menegang, dinding vaginanya menjepit erat batang penisku. Kurasakan dirinya bernafas tertahan, berusaha mengendalikan diri. Aku yakin dirinya tengah mengalami orgasme meskipun ia berusaha menyembunyikannnya dariku.
"Enak ya Bu..." ujarku sambil terkekeh, sambil terus menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya. Kulihat Ibu Winda mendelik kepadaku, ekspresi marah dan malu tergambar di wajahnya akibat ucapanku. "Ngga Rie! Udah! Stopp!" pekiknya padaku, entah karena dirinya kembali tersadar ataukah hanya sekedar kamuflase untuk menutupi rasa malunya karena telah mencapai orgasme beberapa saat lalu. Tanpa mempedulikan ucapannya, kulanjutkan kembali seranganku padanya. Kupercepat ayunan pinggulku, terus memompa vaginanya dengan penisku.
"Nghhh...St-stop Ri...U-udah...A-aduhh! Aahh!" pekik Ibu Winda. Mungkin vaginanya menjadi sensitif akibat orgasme yang baru saja diraihnya, sehingga hujaman-hujaman penisku membuatnya kesakitan. Mendengar pekikannya, aku malah menjadi semakin bernafsu. Kurasakan aliran panas sedikit demi sedikit mulai menjalar di penisku, tampaknya aku sendiri sudah mulai tidak tahan menahan orgasmeku.
"Oohh...Iya Bu...Enak Bu...Enakk...Terus Buu..." desisku dengan nafas terengah-engah. Keringatku mengucur deras meskipun suhu di kamar Ibu Winda cukup dingin karena AC yang menyala dan hujan di luar. Ibu Winda tidak mampu lagi untuk memberikan perlawanan. Dirinya hanya bisa mendesah pasrah membiarkan tubuhnya kunikmati sedemikian rupa. Kuremas-remas kedua payudaranya dengan penuh nafsu sementara pinggulku terus bergerak maju mundur.
Setelah beberapa saat, kembali aliran panas kurasakan di penisku. Kali ini lebih cepat, membuatku kewalahan untuk bertahan lebih lama. Kupandang wajah Ibu Winda, wajahnya tampak sayu. Kulihat kedua pipinya agak merah, sementara nafasnya terdengar terengah-engah di antara desahan yang keluar dari mulutnya. "Bu...Enak Buu..." desisku. "Memek Ibu enak banget...Saya puas banget sama memek Ibu...Puasin saya Bu...Puasin kontol saya..." lanjutku tanpa peduli apakah Ibu Winda merasa tersinggung dengan ucapanku atau tidak. "Oohh...Nggh...Ri-Riee...Jangaann..." desah Ibu Winda tertahan, masih berusaha memintaku berhenti.
Ekspresi memelas Ibu Winda semakin membuatku bernafsu, sehingga aku tidak mampu bertahan lebih lama lagi. "Aahhh...Iya Bu...Saya mau keluar...Buuu..." desisku sambil mempercepat ayunan pinggulku. Mendengar ucapanku, Ibu Winda tampak panik. "Aahh...Rie! Ja-jangann Rie! Ngghh...Sshh...Jangan Rie! Ca-cabut...Jangan keluarin di dalem...Nghh...Jangaann..." Ibu Winda melenguh tidak terkendali.
Hujaman penisku yang semakin cepat membuatnya semakin sulit berkata-kata, karena setiap ucapannya terpotong oleh desahan yang keluar dari mulutnya. Melihat diriku tidak peduli, Ibu Winda berusaha melawan. Tubuh dan tangannya bergerak liar, berusaha melepaskan diri dariku. Namun perlawanan itu dengan cepat kuhentikan. Dengan sigap kupegang kedua tangannya, kemudian kudorong tubuhnya ke ranjang, menahan kedua tangannya di sana.
"Nghh...Ssghh....I-iya Buu...Enaaakkkk..." desisku panjang seraya mempercepat ayunan pinggulku. "Nghh!! Ngga Rie! Jangan! Ngga! Jangan di dalem Rie! Aah....Jangaaannn!!!!" pekik Ibu Winda panik, memohon padaku untuk mencabut segera penisku dari vaginanya. Teriakan-teriakan Ibu Winda justru semakin membuatku bergairah. "Nggh....Nnghh...Hhh..." desisku terengah-engah memompa penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat. "Aahh....Jangaannn....Oohhhh.. ..Aaahhh...." Ibu Winda terus meracau tidak terkendali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menolak apa yang hendak kulakukan padanya.
Aku semakin tidak kuat lagi menahan orgasmeku. Beberapa saat kemudian, pertahananku akhirnya runtuh. "Nggh....Arrghh!" pekikku sambil memuntahkan spermaku di dalam lubang rahim Ibu Winda. "Aaahhhh! Jangaannnn!!! Stooppp!! Jangannnn!!!" pekik Ibu Winda panjang. Kugenggam erat kedua pergelangan tangan Ibu Winda yang kutahan di atas ranjang, sementara penisku terus berdenyut-denyut mengeluarkan sperma di dalam vaginanya. Aku tidak peduli lagi jika teriakan Ibu Winda terdengar hingga keluar, yang kupikirkan hanyalah bagaimana menuntaskan muntahan spermaku. "Ngghhh....Nghhhh...Jangaannn. .." ucap Ibu Winda lirih. Suaranya bergetar karena menahan tangis. Kulepaskan kedua tangannya dari genggamanku dan kembali kuremas lembut payudaranya. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini. Yang ada di pikiranku hanyalah menikmati tubuhnya selagi aku bisa.
Setelah kedua tangannya bebas, Ibu Winda segera menutup kedua wajahnya. Tidak lama kemudian kulihat dirinya terisak, tampak terpukul akibat ulahku mengeluarkan sperma di dalam vaginanya. Setelah beberapa saat, kutarik mundur pinggulku, mengeluarkan penisku dari vaginanya. Kulihat cairan berwarna putih ikut mengalir keluar beberapa saat kemudian. Kurebahkan tubuhku di samping Ibu Winda sambil mengatur nafasku yang terengah-engah. "Makasih ya Bu..." ujarku enteng, sambil sesekali masih memainkan payudara dan mengelus tubuhnya.
Ibu Winda tidak bereaksi, dirinya masih terisak menyesali nasibnya. Kuperhatikan dirinya, kini mulai tumbuh penyesalan di dalam diriku. Bagaimanapun Ibu Winda adalah wanita yang baik dan banyak membantuku. Namun apalah daya, kini nasi sudah menjadi bubur.
Lagipula dalam hati kecilku, aku merasa sangat puas telah berhasil menyetubuhi wanita yang menjadi bosku ini. Setelah beberapa saat, aku bangkit berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi, kulihat Ibu Winda menatapku sesaat, tampak kemarahan bercampur kesedihan tergambar di wajahnya. Namun sesaat kemudian ia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak kembali.
Aku pun bergegas mengenakan pakaianku dan beranjak pergi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, apakah aku akan berakhir di kantor polisi ataukah akan ada preman-preman sewaan yang akan menghabisiku. Sebelum pergi kupandang kembali Ibu Winda yang masih terbaring di atas ranjang, terisak sambil terus menutupi wajahnya.
Kuambil handphoneku dan dengan diam-diam kuambil beberapa foto dirinya yang masih terbaring tanpa busana itu. Karena ia masih menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan, Ibu Winda tidak menyadari bahwa aku mengambil foto dirinya tanpa busana sebagai kenang-kenangan. Kemudian tanpa berkata apa-apa aku pun membuka pintu kamar, bergegas pergi dari rumah kos itu.
Para Pembaca Cersex Ingin Mendaftar Dan Mencoba Keberuntungan Klik... Di Sini Ya









0 comments:
Posting Komentar